< >

Sudan Kembali Tegaskan Penolakan Campur Tangan Chad

Selasa, 20 Mei 2008 11:33
Kapanlagi.com - Pemerintah Sudan, Senin, kembali menyampaikan penolakannya atas campur-tangan oleh tetangganya, Chad, dalam urusan dalam negeri Sudan.

Penolakan itu disampaikan setelah Ketua Komisi Uni Afrika (AU) Jean Ping dan Komisaris AU Urusan Perdamaian dan Keamanan Ramadan Al-Amamrah mengakhiri kunjungan tiga hari ke Sudan, yang merupakan lawatan pertama bagi kedua pejabat itu sejak mereka memangku jabatan April lalu.

Ping dan Al Amamrah tiba di Khartoum dari ibukota Chad, N'Djamena, tempat mereka menyampaikan kepada pihak Chad satu gagasan dari AU guna menengahi penyelesaian perbedaan pendapat antara Sudan dan Chad.

Dalam suatu pernyataan, Kementerian Urusan Luar Negeri Sudan mengatakan kunjungan tersebut dilakukan dalam konteks upaya yang sedang dilancarkan oleh AU guna menyelesaikan masalah Darfur dan menjembatani jurang pemisah antara Sudan dan Chad, terutama setelah satu serangan yang gagal oleh pemberontak Darfur terhadap ibukota Sudan, Khartoum.

Menurut pernyataan itu, para pejabat AU menyelenggarakan pertemuan dengan Presiden Sudan Omar Al-Bashir, Pembantu Presiden Nafie Ali Nafie, Menteri Negara Urusan Luar Negeri As-Samani Al-Wasila serta para pejabat lain.

Mereka juga mengunjungi Juba, Sudan selatan, tempat mereka menyelenggarakan pembicaraan dengan Wakil I Presiden Sudan dan Presiden Pemerintah Sudan Selatan Salva Kiir Mayardit.

Pejabat AU itu juga mengunjungi El Fashir, ibukota Negara Bagian Darfur Utara, tempat mereka bertemu dengan Gubernur Negara Bagian tersebut Osman Mohamed Yousif Kibir dan anggota pemerintah negara bagian.

Selama pertemuan tersebut, para pejabat Sudan menyampaikan penghargaan mereka bagi peran sangat besar yang diemban oleh AU dalam menyelesaikan masalah Sudan, kata Kementerian Luar Negeri Sudan dalam pernyataan itu.

Ditambahkannya, pemerintah akan terus mendukung peran AU dalam konteks bahwa semua masalah Afrika mesti diselesaikan oleh rakya Afrika sendiri.

"Mengenai Chad, sudah ditegas bahwa Sudan telah menjadi pihak yang paling berminat dalam hubungan baik dengan Chad dan menanggapi mekanisme yang dibuat guna meningkatkan hubungan antara kedua negara, sedangkan pemerintah Chad gagal melaksanakannya," demikian antara lain isi pernyataan itu.

"Sudan akan tetap tertarik pada hubungan bertetangga yang baik dengan semua tetangganya, tapi negara tersebut takkan mengizinkan campur-tangan dalam urusan dalam negerinya dan pengulangan ancaman apa pun dan Sudan akan berusaha menggagalkan setiap upaya untuk melakukan agresi terhadap setiap bagian wilayahnya," katanya.

Peningkatan ketegangan telah terjadi dalam hubungan antara kedua negara Afrika tersebut sejak pemerintah Sudan menggagalkan serangan oleh pemberontak Gerakan Persamaan dan Keadilan terhadap ibukota negerinya, Khartoum, pada 10 Mei.

Presiden Sudan Omar Al-Bashir menuduh pemerintah Chad terlibat dalam serangan itu, dan mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik antara kedua negara. Pemerintah Chad telah membantah bahwa N'Djamena terlibat dalam serangan serangan tersebut. (*/bun)