Menurut Yayuk, Menpora masih belum serius memajukan dunia olahraga Indonesia. Di mana kualitas atlet banyak yang berkurang. Permasalahan mereka juga kompleks, hingga bisa turun. Lagi-lagi masalah berujung pada dana, selama negara masih kesulitan dana atlet Indonesia tidak akan pernah maju. Menurut saya, Menpora sudah berperan sangat optimal.
Memang ada beberapa kali kebijakan yang perlu dibenahi. Mengenai dana juga masih kurang di mana dari APBN secara keseluruhan untuk bidang olahraga saja tidak sampai 1 triliun. Itu menjadi budget terendah negara, bayangkan saja. Padahal untuk seorang atlet pemula saja setahunnya dia perlu US$150 ribu. Kalau memang dia bisa biayai sendiri, itu belum tentu jadi lho.
“Tergantung potensi atlet, kalau nggak sampai di situ ya nggak nyampe dan itu setahun 1 atlet. Persiapan Sea Games saja hampir 75 miliar. Sementara yang diberikan negara ke pelatnas hanya 47 miliar. Meski ada sinergi apabila hanya dibebankan ke negara saja, tidak akan mampu,” tandasnya.
Yayuk yang dulu namanya bersinar kini telah meninggalkan dunia lapangan, menggantungkan raketnya. Alasannya saat itu ia merasa sudah cukup perjuangannya di dunia olahraga. Dalam dirinya sudah memiliki tingkat kelelahan tertinggi ditambah dengan dirinya yang sudah berkeluarga.
“Dulu beban berat bisa saya pikul, saya mempertahankan dan berjuang untuk Indonesia. Yah, sekarang ini saya lebih ingin memulai gaya hidup yang baru,” ujarnya.
Sebelum dirinya memutuskan untuk meletakkan raket, pemilik nama lengkap Sri Rahayu Basuki sempat mendapat prestasi peringkat 19 dunia. Keputusan itu diambil ketika di tahun 2002 dirinya ditawarkan bertanding di kejuaraan Asean Games.
“Saya pikir sudah waktunya. Kalau tidak sekarang, ya kapan lagi. Kapan saya bisa memberikan kesempatan bagi atlet-atlet muda,” ujar Yayuk.
Meski disayangkan Yayuk, anak muda sekarang ini masih belum banyak yang bisa mempertahankan prestasi. Walaupun sudah muncul nama-nama seperti Romana, Wyne Prakusya, dan Angelique Widjaja. Itulah saat baginya untuk mundur dari dunia tenis.
Memang itu kembali lagi kepada personil. Karena dengan tenis saja kita sudah tidak mampu menikmati dunia yang lain. Dunia saya memang sudah habis untuk di lapangan. Saya dulu sering dibilang begini
“Wah kamu nggak ada waktu untuk menikmati masa muda kamu lagi,” Kalau saya memang sudah tidak kepikiran, tapi saya merasa senang. Saya juga tidak menyesal, tidak pernah mengikuti dunia glamour, ngafe, saya sama sekali tidak menyesal. Saya tidak merasa kehilangan masa muda, melainkan saya malah mempergunakan masa muda saya untuk berkarya.
Mimpi-mimpi tetap harus berkelanjutan, di usianya yang sudah tidak terbilang muda itu, Yayuk sudah sangat bersyukur bisa menjadi apa yang dilakukannya sekarang ini. Ini adalah amanah yang harus dijalankan.
“Saya masih ingin terus mengharumkan dunia olahraga kita. Juga mengembalikan citra dunia olahraga ke mata internasional. Mengubah perilaku manusianya, mendidik atlet hingga optimal, untuk mencapai yang terbaik,” katanya optimis. (kpl/tia)