Dephut Berdayakan Ekonomi Masyarakat TNLL

Kapanlagi.com - Dephut kurun tiga tahun terakhir melancarkan program pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang bermukim di sekitar Taman Nasional Lore-Lindu (TNLL), Provinsi Sulawesi Tengah.

"Program pemberdayaan yang sudah menjangkau belasan desa itu, antara lain berupa pengembangan penggemukan ternak sapi, kerbau, tambak ikan, penanaman tanaman obat tradisional, serta peternakan lebah madu," kata Kepala Balai Besar TNLL Dephut, Widagdo, di Palu, Kamis (22/5).

Ia mengatakan, peluncuran program-program tersebut bertujuan mengajak masyarakat di desa-desa sekitar TNLL untuk ikut mengamankan sekaligus melestarikan kawasan hutan konservasi yang menjadi habitat hewan langka, seperti Anoa, Tarsius, dan Barirusa tersebut.

Dengan adanya pekerjaan tetap semacam ini, katanya, mereka yang bermukim di sekitar TNLL dapat menghindari diri dari pembukaan hutan untuk kepentingan lahan pertanian dan perkebunan, atau ikut terlibat bersama para cukong mengeksploitasi kayu di kawasan TNLL.

Widagdo juga mengatakan, pihaknya pada tahun anggaran 2008 memprogramkan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat pada tiga desa lagi di sekitar TNLL, yakni Toro dan Namo di Kecamatan Kulawi (Kabupaten Donggala) serta Wuasa di Kecamatan Lore-Utara (Kabupaten Poso).

"Kegiatan yang diluncurkan itu akan disesuaikan dengan kondisi kebutuhan masyarakat di masing-masing desa, namun besaran kegiatannya memperhatikan alokasi dana yang tersedia," katanya.

Total desa yang berada di sekitar kawasan TNLL tercatat sebanyak 69 buah. TNLL sendiri memiliki luas 217.000 hektar dan berada di tengah wilayah perbatasan Kabupaten Donggala dan Kabupaten Poso.

Hamparan hutan yang masih perawan di TNLL sudah ditetapkan sebagai kawasan "Biospare" oleh UNESCO sejak tahun 1977, karena menyimpan ribuan spesies tumbuhan langka serta ratusan jenis satwa endemik Sulawesi.

Menjawab pertanyaan, Widagdo mengatakan program-program yang diluncurkan Dephut tersebut sangat besar pengaruhnya bagi percepatan peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar TNLL, selain meningkatkan kepedulian mereka ikut bertanggung jawab mengamankan kawasan hutan.

Ia mencontohkan, masyarakat yang berdomisili pada sekitar Danau Lindu di "Kecamatan Konservasi" yang baru diresmikan itu, hingga saat ini sangat peduli dengan kelestarian kawasan hutan.

Bahkan, katanya, apabila ada warga di sebuah desa yang terbukti merambah hutan atau memburu satwa langka, mereka dikenakan sanksi oleh dewan adat setempat.

Selain memberdayakan ekonomi masyarakat, Dephut dalam menjaga kelestarian TNLL juga setiap tahunnya merekrut tenaga pengamanan masyarakat (PAM) partisipatif dari desa sekitar, dan mereka ini diberikan insentif uang secukupnya.

Hingga kini sudah ada sekitar 40 tenaga PAM partisipatif yang direkrut dari sejumlah desa di sekitar kawasan TNLL.

Menurut dia, tugas pokok PAM partisipatif mirip tenaga intelijen, yaitu memberikan informasi segera ke pos penjagaan, sekaligus juga sebagai tenaga penyuluh membantu para petugas Polhut di lapangan.

"Selama ini, tenaga PAM partisipatif cukup membantu petugas kami di lapangan yang sangat terbatas (hanya 56 orang Polhut), sehingga beberapa kasus perambahan dan pencurian hasil hutan di dalam kawasan bisa terungkap," katanya. (kpl/rif)

©2003-2007 KapanLagi.com