"Tinggal menyelesaikan persyaratan-persyaratan administrasi, itu dua sampai tiga bulan selesai, termasuk pembagian tanggung jawab dengan pusat," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo seusai bertemu dengan Vincenzo La Via, Chief Financial Officer of the World Bank Group, di Balaikota Jakarta, Kamis (22/5).
Pembagian tanggung jawab itu antara lain berapa persen pembagian pembayaran cicilan antara Pemerintah Pusat dan Pemprov.
"Karena kalau Pusat terlalu besar, Ibu Menteri Keuangan bisa keberatan. Kita bagi yang proporsional aja," kata Gubernur setengah bercanda.
Pinjaman sebesar US$150 juta itu menurut Gubernur akan digunakan untuk program pengendalian banjir yang lain, Banjir Kanal Timur (BKT).
Sementara itu, pengerukan ke-13 sungai yang mengalir di Jakarta menurut Gubernur akan dilakukan secepatnya setelah pinjaman cair dan ditargetkan selesai sebelum musim hujan tiba.
"Pengerukan akan lebih mudah jika dilakukan sebelum musim hujan tiba, karena ketinggian air masih sedang," ujarnya.
Jika program pengendalian banjir yang dananya diperoleh dari Bank Dunia itu dimulai, Fauzi optimis bahwa banjir yang rutin melanda Jakarta dapat dikurangi.
Ia mencontohkan Kali Sunter yang termasuk kawasan rawan banjir karena tidak pernah dikeruk dalam 40 tahun terakhir.
"Kalau dikeruk akan memperlancar aliran sungai Sunter. Dari dulu kita kenal daerah itu sebagai daerah rawan banjir," katanya.
Pinjaman dari Bank Dunia tersebut akan dimanfaatkan untuk perbaikan sarana dan prasarana penanggulangan banjir dalam jangka waktu 2008-2012 dengan pengerjaan fisik infrastruktur penanggulangan banjir akan dimulai pada tahun 2009.
Perbaikan infrastruktur itu meliputi perbaikan drainase, pompa air, rehabilitasi tanggul, pengerukan sungai, waduk, dan pembangunan lokasi pembuangan lumpur. (kpl/rif)