Para anggota GSDF dari kesatuan teknik sipil yang akan melaksanakan tugas, termasuk pembangunan jalan, di negara yang sedang dilanda perang sipil itu sebagai bagian dari Misi PBB di Sudan, kata mereka.
Menurut sumber-sumber, pemberangkatan tersebut sebagai respon atas permintaan PBB bahwa Jepang hendaknya bergabung dengan 10.000 anggota misi PBB yang berasal lebih dari 70 negara, yang bertugas memantau pelaksanaan perjanjian gencatan senjata 2005 antara pemerintah Sudan dan pemberontak anti pemerintah.
"Kami ingin melaksanakan diplomasi baru di Afrika yang diawali dengan pemberangkatan mereka, ketimbang dari kecenderungan memberikan bantuan uang dan barang belaka," kata sumber pemerintah di Tokyo.
Pemerintah Tokyo akan membuat keputusan berkaitan dengan tanggapan permintaan PBB itu setelah pihaknya mengirimkan satu tim pendahuluan yang terdiri empat sampai lima petugas SDF ke markas besar UNMIS di ibukota Sudan, Khartoum, pada Juli atau Agustus depan.
Perdana Menteri Yasuo Fukuda akan membuka kebijakan Jepang yang aktif memberikan sumbangan kepada operasi-operasi pemeliharaan perdamaian UNMIS pada konferensi tingkat tinggi (KTT) Kelompok Delapan (G-8) di Hokkaido, Juli depan.
Pemberangkatan mereka akan menandai pertama kalinya Jepang ikut berpartisipasi penuh dalam operasi-operasi pemeliharaan perdamaian PBB sejak 2002, ketika Jepang mengirimkan kesatuan teknik sipil SDF ke Timor Timur selama dua tahun.
Kementerian Pertahanan baru-baru telah mencabut keengganannya untuk mengirimkan para petugas SDF untuk ikut ambil bagian di UNMIS, dalam rangka memperbaiki situasi keamanan di Sudan utara, kata sumber-sumber itu.
Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kabinet akan mengirimkan tim gabungan pencari fakta ke markas besar UNMIS di Khartoum, dan lokasi-lokasi relevan lainnya, mungkin pada Juni mendatang.
Tim ini akan mengadakan perundingan-perundingan dengan para wakil dari pemerintah Sudan dan PBB mengenai tugas-tugas yang mungkin diperlukan dari para petugas Jepang.
PBB telah meminta pemerintah Jepang, apakah tentara Jepang bisa membangun jalan, pembersihan ranjau darat, dan pembangunan fasilitas-fasilitas lainnya, kata sumber itu.
Bidang utama kontribusi Jepang di Sudan tampaknya pada pembangunan jalan, seperti yang pernah dilakukan di Kamboja, di mana pasukan Jepang juga bergabung dengan misi pemeliharaan perdamaian PBB.
Para petugas yang akan dikirim ke markas besar UNMIS akan menganalisa situasi keamanan setempat dan rencana-rencana aksi secara rinci bagi pemberangkatan satuan teknik sipil GSDF itu.
Jumlah petugas GSDF yang dikirimkan sebagai pasukan pemelihara perdamaian PBB akan dibatasi sampai sekitar 50 orang, termasuk mereka yang dikirimkan sebagai bagian Pasukan Pengamat PBB di Dataran Tinggi Golan untuk memelihara gencatan senjata antara Suriah dan Israel. (*/cax)