
"Ini saat yang baik, ada hikmahnya, ketika anaknya kumpul, ketika ketiga anak dan cucunya membacakan surat al-fatehah beliau menghembuskan nafas terakhir," ungkap Dik.
"Proses ini (sakaratul maut), merupakan yang pertama kita lihat, belum pernah melihat sebelumnya," tambahnya.
Hal lain yang membuat Dik Doank dan keluarga iklas, adalah ketika seluruhnya telah dipersembahkan yang terbaik buat sang ayah. Sebelumnya Dik telah membuatkan rumah dan memberangkatkan haji, yang menjadi keinginan sang Ayah.
"Beliau juga ingin meninggal di rumah saya," ungkap presenter reality show Sang Pengembara ini di rumahnya, di kawasan Perumahan Pondok Kita, Jurangmangu, Ciputat.
Saat ayahnya mulai sakit, Dik mengaku masih dalam sebuah urusan di Beijing. Keadaan itu diakuinya membuatnya tidak nyaman. Ingin segera kembali ke Jakarta. "Meski saya di sana, hati saya di sini," terang Dik yang tidak menampakan wajah sedihnya itu.
Kematian sendiri bagi Dik merupakan takdir Allah, tak perlu disesalkan. Semuannya pasti mengalami, yang dikasihi akan diambil Allah. "Untuk hal yang satu ini jangan disesali, itu sudah takdir," ujarnya.
Sebelum ayahnya meninggal, Dik memiliki tanda-tanda yang hanya bisa dirasakannya sendiri. Dik mengaku melihat bulan sabit indah, begitu pun ketika ayahnya meninggal ia seperti melihat bulan itu seperti tersenyum. (hen/dar)
Lihat Profil: Dik Doank