< >

Perdagangan Sapi Bali Maksimal 10% Dari Populasi

Sabtu, 07 Juni 2008 12:19
Kapanlagi.com - Perdagangan sapi antarpulau maupun pemotongan lokal untuk memenuhi konsumsi masyarakat, hotel dan bahan baku industri pengalengan daging di Bali jumlahnya harus lebih kecil dari angka kelahiran sapi setiap tahunnya, yakni maksimal 10% dari populasi.

Hal itu dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan dan meningkatkan populasi sapi serta mencegah sedini mungkin agar jangan sampai punah, kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, Ida Bagus Ketut Alit di Denpasar, Sabtu (7/6).

Ia mengatakan, menjaga keseimbangan populasi sapi telah menjadi tekad pemerintah bersama masyarakat setempat, meskipun permintaan pasar terhadap ternak tersebut terus meningkat.

Oleh sebab itu Pemerintah Provinsi Bali menetapkan kuota perdagangan sapi antarpulau, yang jumlahnya jauh lebih kecil dari angka kelahiran sapi setiap tahunnya.

Ida Bagus Alit menjelaskan, daerahnya menetapkan jatah perdagangan sapi antarpulau tahun 2008 sebanyak 75.000 ekor dengan berat 350 kg ke atas setiap ekornya. Realisasi selama lima bulan periode Januari-Mei 2008 tercatat 25.000 ekor.

"Penetapan jatah tersebut hanya maksimal 10% dari populasi yang ada, meskipun permintaan terus meningkat," tutur Ida Bagus Alit.

Oleh sebab itu dalam menetapkan kuota perdagangan sapi antarpulau harus didasari atas perhitungan yang matang dan cermat agar keseimbangan populasi sapi tetap dapat dipertahankan.

Ida Bagus Alit menjelaskan, agar jatah perdagangan sapi yang ditetapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat ibukota Jakarta secara berkesinambungan, pengiriman setiap hari atau hari-hari tertentu telah diatur sedemikian rupa.

"Setiap bulan dibatasi pengiriman maksimal 5.000 ekor, di luar jatah untuk kebutuhan hari-hari raya besar keagamaan dan tahun baru," tutur Ida Bagus Alit.

Populasi ternak sapi di Bali kini tercatat 600.973 ekor dengan kepadatan rata-rata 93,3 ekor per kilometer persegi.

Melalui upaya penjatahan perdagangan sapi antarpulau diharapkan mampu menjaga keseimbangan populasi sapi setempat, yang merupakan satu-satunya sumber plasmanutfah yang menjadi aset nasional, harap Ida Bagus Alit. (*/lin)