< >

125 Pengunjuk Rasa Tibet Ditahan Polisi Nepal

Kamis, 12 Juni 2008 07:49
Kapanlagi.com - Polisi di Nepal pada Rabu (11/6) menahan sedikitnya 125 warga Tibet di pengasingan saat mereka berunjuk rasa di luar gedung kedutaan besar China, kata pejabat.

Penentang itu dicegah polisi mencapai gedung di Katmandu, ibukota Nepal, dan dimasukkan ke kombi menunggu ketika mereka berteriak "Kami ingin Tibet bebas" dan "Hentikan pembunuhan di Tibet", kata saksi.

Pegiat Tibet di Katmandu berunjuk rasa hampir setiap hari sejak kerusuhan meledak di Tibet pada Maret dan ditanggapi dengan penumpasan oleh pemerintah China.

Pegiat Tibet di Nepal pada umumnya ditahan dan dilepaskan pada malamnya, yang kembali pada hari berikutnya untuk berunjuk rasa dan ditahan lagi, kata polisi.

Kepolisian Nepal pada Minggu membubarkan unjuk rasa warga Tibet di pengasingan di dekat kantor visa Cina di Katmandu dan menahan lebih dari 200 pesertanya.

Polisi menyatakan menangkap dan menahan pengunjuk rasa setelah mereka berusaha melakukan arak-arakan menuju gedung kantor visa, yang diamankan garis polisi.

Polisi dan pengunjuk rasa terlibat pertikaian kecil, dengan beberapa warga Tibet cedera, kata kelompok Tibet itu.

Pengunjuk rasa itu, termasuk biksu Budha dan membawa bendera Tibet dan spanduk menyeru "Tibet Merdeka", dikepung polisi dan dibawa ke pusat pemeriksaan.

Pengunjuk rasa itu meneriakkan "Hentikan pembunuhan di Tibet" dan "Panjang Umur Dalai Lama".

Pemerintah Nepal sebelumnya menyatakan tidak akan menenggang unjuk rasa menentang China dan akan menggunakan kekerasan untuk membubarkan unjuk rasa tersebut. Pernyataan itu mendapat kecaman masyarakat antar bangsa.

Amnesti Internasional dan Human Rights Watch menuduh kepolisian Nepal menggunakan kekerasan dan siasat penekanan, termasuk penahanan dan ancaman untuk memulangkan mereka ke Tibet.

Di Nepal terdapat lebih dari 20.000 warga Tibet, yang terutama terkumpul di lembah Katmandu dan Pokhara di Nepal barat.

Jumlah itu tidak termasuk warga Tibet tiba di negara tersebut setelah tahun 1990, karena pemerintah Nepal menghentikan pencatatan mereka sebagai pengungsi.

Kelompok hak asasi menyatakan sekitar 3.000 warga Tibet tiba di Nepal setiap tahun, dengan menyeberangi jalur berbahaya pegunungan dan menyelamatkan kehidupan mereka dengan lari dari kekuasaan China.

Polisi di ibukota Nepal itu pada tengah pekan lalu menahan sedikitnya 250 warga Tibet ketika mereka berunjuk rasa di depan gedung kedutaan besar China, kata polisi dan saksi.

Pengunjuk rasa itu, yang mencakup rahib dan biarawati, melambaikan bendera pemerintah Tibet di pengasingan dan meneriakkan "China pendusta", "Bebaskan Tibet" dan "Hentikan pembunuhan di Tibet" di depan seksi konsuler dan perdagangan China.

Setelah bentrok singkat dengan polisi, mereka dikurung di mobil gerbong yang menunggu.

"Kami membawa sekitar 250 orang Tibet ke penjara setelah mereka berusaha berunjuk rasa di tempat terlarang," kata Anupam Rana, pejabat polisi di tempat kejadian.

Nepal secara resmi menerapkan kebijakan "satu China" tetangga raksasa di utaranya itu, yang menganggap Tibet dan Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan China.

Polisi Nepal menahan 562 wanita Tibet pada unjuk rasa menentang China di Katmandu pada tengah Mei, unjuk rasa pertama dengan semua pesertanya wanita terhadap pemerintah China di tanah air mereka, kata pejabat. (kpl/rif)