"Dia sebaiknya tidak mengganggu perkembangan republik dan menahan diri dari keterlibatan dalam kegiatan revolusi tandingan," kata orang kedua Maois Baburam Bhattarai kepada wartawan.
"Kami tidak ingin dia dipakai sebagai senjata bagi kekuatan revolusi tandingan dalam masa peralihan dan peka ini," kata pemimpin Maois tersebut.
Majelis dikuasai Maois pada 28 Mei memutuskan menghapuskan kerajaan berumur 240 tahun negara tersebut, puncak dari kesepakatan perdamaian 2006 antara mantan pemberontak itu dengan partai politik arus utama.
Mantan raja tersebut, Gyanendra Shah, meninggalkan istananya pada Rabu malam untuk menjalani kehidupan sebagai orang biasa di daerah pinggiran ibukota Nepal tersebut.
Gyanendra dan istrinya, Komal Shah, berangkat dengan mobil Mercedes hitam. Ratusan polisi antihuru-hara memagari pintu gerbang gugus istana di jantung kota percandian kuno itu.
Teriakan "Hidup republik" bergema dari kerumunan sekitar 500 orang, yang menyaksikan kepergian Gyanendra, sementara sejumlah penduduk pendukung kerajaan menangis.
"Mantan Raja Gyanendra Shah dan istrinya, Komal Shah, telah meninggalkan istana dan menuju Nagarjun, daerah cagar alam di pinggiran Katmandu," kata polisi Bharat Lama kepada kantor berita Prancis AFP.
Mantan raja itu, yang dianggap sebagai dewa oleh penganut Hindu, tidak menunjukkan emosi ketika pergi dalam iringan kecil tiga kendaraan. Ia dan istrinya duduk di kursi belakang mobil Mercedes hitam tersebut.
Gyanendra naik tahta pada Juni 2001 setelah pembantaian di Istana, tempat sebagian besar anggota keluarga kerajaan itu dibunuh.
Penembakan membabi-buta dilakukan putera mahkota saat itu, yang mabuk akibat minuman keras dan narkotika, yang marah akibat dilarang menikahi wanita yang dicintainya. Pangeran itu kemudian bunuh diri.
Gyanendra dalam pidato kepada bangsanya pada Rabu menyatakan menghormati keputusan membatalkan kerajaannya ketika bersiap meninggalkan istananya untuk terakhir kali.
Dalam pidato terakhirnya sebelum meninggalkan istananya itu, Gyanendra mengatakan, ia juga telah menyerahkan mahkota dan tongkat lambang kekuasaannya kepada pemerintah.
"Saya telah menilai dan menghormati putusan rakyat itu," katanya, tapi menambahkan bahwa ia tidak akan meninggalkan negara itu dan pergi ke pengasingan.
"Mahkota dan tongkat lambang kekuasaan, yang digunakan dinasti Shah, telah saya berikan kepada pemerintah Nepal," tambahnya.
Pemimpin Maois Nepal mengesampingkan meninggalkan perjuangan bersenjata, tapi mengatakan untuk kembali pada kekerasan tidak mungkin setelah mantan pemberontak itu mencapai tujuan mereka mengakhiri kerajaan tersebut.
Maois, yang melancarkan pemberontakan sepuluh tahun dan menewaskan lebih dari 13.000 orang, menang dalam sidang parlemen khusus pada akhir Mei, yang memutuskan menurunkan Gyanendra dari tahta raja Nepal.
Dalam wawancara disiarkan Selasa, Prachanda menyatakan keputusan itu menunjukkan rakyat Nepal menginginkan "perdamaian dan perubahan".
"Saya kira tidak perlu menggunakan senjata lagi," katanya kepada surat kabar Jepang Yomiuri Shimbun.
Tapi, ia menolak melepaskan hak perjuangan bersenjata oleh Maois, yang memiliki 31.000 gerilyawan di sarang terpantau Perserikatan Bangsa-Bangsa di seluruh negara gunung itu. (kpl/rif)