Daniel Loton adalah lulusan Fakultas Psikologi yang kebetulan juga seorang gamer. Ia tertantang untuk menyelidiki kebenaran pendapat yang menyatakan bahwa maniak game adalah orang 'kuper'. Ia melakukan survei terhadap 621 orang secara online untuk mencari tahu hubungan antara game dan kemampuan bersosialisasi.
Ternyata dari 621 orang tersebut hanya 15%-nya saja yang bisa dianggap gamer 'bermasalah' atau orang yang menghabiskan waktu tak kurang dari 50 jam dalam 1 minggu untuk bermain game. Dan dari sekian banyak gamer hanya 1% saja yang bisa dianggap kurang mampu bersosialisasi.
Dalam sebuah berita yang dimuat Reuter hari Kamis (12/06/08) disebutkan bahwa Daniel Loton mengambil kesimpulan bahwa game tidak membuat orang menjadi kesulitan bersosialisasi sedangkan orang yang kurang mampu bersosialisasi tidak selalu tertarik bermain game. Bahkan gejala-gejala masalah bersosialisasi ini juga tidak tampak pada gamer yang tergolong maniak.
Daniel Loton yang lulusan Victoria University menghabiskan waktu 2 tahun untuk melakukan survei ini. Dalam melakukan survei ini Daniel mengajukan questionnaire yang akan mengukur kemampuan bersosialisasi dan rasa percaya diri para gamer tadi.
Hasil survei ini dilepas tak lama setelah pernyataan American Medical Association (AMA) yang mengatakan bahwa gamer Massively Multiplayer Online Role Playing Games (MMORPG) adalah orang-orang yang terasing secara sosial. AMA bahkan berencana untuk memasukkan kecanduan game ini sebagai salah satu gejala kecanduan.
"Dari segi klinis, kecanduan adalah 'gangguan kejiwaan' dengan konsekuensi serius. Dalam konteks ini, kita harus mempertanyakan apakah game bisa dianggap penyebab hancurnya hidup seseorang sama seperti pada kasus kecanduan alkohol, judi, atau obat-obatan terlarang," ungkap Daniel lebih lanjut. (rtrs/roc)