Presiden SBY Hayati Kebudayaan Bali

Kapanlagi.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaruh perhatian besar terhadap upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali, bahkan menghayati kebudayaan Pulau Dewata.

"Kepala Negara sangat rajin membaca buku Ramayana, Mahabarata dan buku-buku yang menyangkut seni budaya Bali lainnya," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik ketika membuka Kongres Kebudayaan Bali yang pertama di Sanur, Bali, Sabtu.

Ia mengatakan, kepala negara menghayati dan memahami seni budaya Bali yang merupakan bagian dari puncak-puncak kebudayaan nasional. Bahkan selama empat tahun terakhir Presiden selalu menyempatkan diri untuk membuka Pesta Kesenian Bali (PKB).

"Hari ini Presiden SBY juga membuka PKB ke-30. Kongres Kebudayaan Bali yang baru pertama kali digelar rencananya dibuka Presiden, namun karena meresmikan sejumlah proyek pembangunan di Bali saya ditugaskan untuk mewakili beliau," ujar Jero Wacik di hadapan sekitar 400 peserta yang terdiri atas budayawan dan utusan dari berbagai instansi pemerintah.

Menbudpar Jero Wacik menilai, Presiden SBY yang begitu antusias terhadap kebudayaan Bali, dibuktikan dengan selalu menyempatkan diri untuk membuka PKB, aktivitas seni tahunan yang menunjukkan sebagai penghayat beraneka ragam kebudayaan daerah.

Kebudayaan Bali yang tetap kokoh dan eksis hingga sekarang, melalui proses perjalanan yang sangat panjang sejak Kerajaan Majapahit. Berkat keunikannya, seni budaya Bali mampu menjadikan daerah ini cukup dikagumi dunia.

"Bali dengan keunikan dan keragaman seni budaya mampu mencatat prestasi yang membanggakan hingga daerah ini keluar sebagai pulau wisata terbaik di dunia," ujar Menbudpar Jero Wacik.

Kongres kebudayaan Bali yang baru pertama kali digelar melibatkan 400 peserta terdiri budayawan, cendikiawan dan berbagai unsur di tingkat lokal Bali, nasional hingga internasional.

Kegiatan selama tiga hari itu menampilkan 38 pembicara, termasuk tujuh dari mancanegara, enam tingkat nasional dan 25 orang dari lokal Bali.

Tujuh pembicara mancanegara antara lain dari UNESCO, Prof Dr Jenskin (Amerika Serikat), Adrian Vickers (Australia), Shenji Yamasitha (Jepang), Dr Mark Hobart (Inggris) dan Dr Shangkar Dhayal Dvivedi dari Uthar Prodesh University India.

Pembicara tingkat nasional antara lain Dirjen Diplomasi Publik Deplu tentang hubungan internasional melalui kebudayaan, Prof Dr Edi Sedyawati (Identitas Bangsa), Dirjen HAKI Departemen Hukum dan HAM, Putu Wijaya (Peradaban Bangsa) dam Prof Dr Komang Gede Bendesa (Ekonomi Kapitalis dan Kebudayaan).

Sedangkan 25 pembicara dari Bali menyoroti kehidupan seni dan budaya Pulau Dewata dari berbagai aspek.

Pembahasan menyangkut identitas meliputi agama, bahasa dan manusia Bali menampilkan tiga pembicara masing-masing Drs Ida Bagus Gede Agastia (anggota DPD-RI), Prof Dr I Gusti Made Sutjaja MA (Universitas Udayana) dan Prof Dr Ida Bagus Gunada (Universitas Hindu Indonesia).

Pembahasan menyangkut ekonomi meliputi pariwisata, pertanian dan lingkungan menampilkan enam pembicara, semuanya guru besar dari Universitas Udayana masing-masing Prof Dr Nyoman Erawan, Prof Dr I Made Sukarsa, Prof Dr I Gde Pitana, Prof Dr Dewa Suprapta, Dr Rahmanta dan Dr Wayan Suwarna.

Pembahasan tentang peradaban (arsitek, pendidikan, gender dan pemuda) oleh Rumawan Salain, Prof Dr Dewa Komang Tantra, Prof Dr Nyoman Dantes, Dra Luh Arjani dan Sugi Lanus.

Sedangkan menyangkut hak kekayaan intelektual (HAKI) oleh Prof Dr I Made Bandem, Drs Nyoman Gunarsa, Prof Dr I Wayan Dibia, Prof Dr I Made Wianta dan Pujiati. (*/cax)

©2003-2007 KapanLagi.com