"Kami banyak menerima pesanan kain batik dari pebisnis Amerika dan Jepang dengan motif etnik Banten sebab bentuknya mempunyai ciri khas tersendiri, lain dari kain sejenis yang sudah populer," kata pengrajin batik etnik Banten, Ratu Nelly Fariza di Serang, Sabtu.
Dia mengaku kewalahan menerima pesanan dari pengusaha kedua negara tersebut setelah beberapa waktu lalu melakukan pameran dagang untuk promosi.
Ia mengatakan hal tersebut disela pameran dan kerajinan yang merupakan rangkaian kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-22 yang digelar pada 17-24 Juni 2008 di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Kecamatan Curug, Kota Serang.
Sedangkan batik dari Banten selain dipamerkan di dua negara itu, juga sudah dipromosikan ke Eropa dan beberapa negara di Asia maupun Australia.
Motif yang dilukis pada kain batik tersebut terutama berupa sejarah seperti gambar kapal sedang berlayar pada zaman kejayaan Banten tempo dulu, lautan hijau disertai ombak besar, keramaian pasar tradisional, serta keindahan Selat Sunda.
Bahkan juga ditampilkan motif pohon kelapa dan aneka budaya seperti tarian yang tidak dijumpai pada motif batik lainnya di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jatim maupun daerah lainnya yang lebih duluan mempopulerkan.
Pada prinsipnya, motif yang ditampilkan dengan corak kembali ke alam dan budaya masa lalu termasuk menggali sejarah Islam di Banten serta dilukis pada kain dengan relief dan ornamen pendukungnya.
Demikian pula motif 'kaibon' yang merupakan lambang pintu gerbang Banten juga selalu diselipkan dalam gambar kain batik yang dilukis.
Fariza juga membuka usaha batik di kawasan Villa Regensi, kawasan Bintaro, Kabupaten Tangerang, dengan melibatkan sejumlah karyawan serta menggandeng beberapa pengrajin sekitarnya.
Ketika disinggung bahwa batik Indonesia diakui oleh negara lain, dia malah tersenyum dan menyebutkan untuk apa harus melakukan adu argumentasi yang hasilnya tanpa ujung, seharusnya tunjukkan dengan karya nyata, maka pihak yang mengaku akan mundur secara teratur.
"Saya sering pameran di Kuala Lumpur dan Singapura, tapi motif batik Banten tidak ada yang mau menyamai, karena hasil karya yang khas, dan sulit membuatnya," katanya.
Dia menyebutkan, hasil karya tentang motif tersebut juga sudah dipromosikan kepada pihak lain oleh Rano Karno sebagai Wakil Bupati Tangerang ketika melakukan kunjungan ke tempat usahanya di Bintaro beberapa waktu lalu.
Kepala Bidang Perdagangan Ikawan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Pusat itu tidak pernah merasa jemu untuk mempromosikan batik Banten dengan mengajak pengrajin lainnya untuk bergabung karena memiliki prospek cerah dalam pemasaran. (*/bun)