< >

Sistem Pertanian Tradisional Pertahankan Budaya Bali

Minggu, 22 Juni 2008 10:17
Kapanlagi.com - Seorang Gurubesar Univesitas Udayana, Prof Dr Ir Dewa Ngurah Suprapta, menilai, sistem pertanian tradisional yang dikembangkan petani Bali secara turun-temurun mampu mendukung tingkat kesejahteraan serta melestarikan budaya setempat.

"Budaya kita yang dikembangkan sebagai aktualisasi ajaran agama Hindu mempunyai kaitan erat dengan bidang pertanian," kata Dewa Suprapta yang juga Kepala Laboratorium Biopestisida Fakultas Pertanian Unud di Denpasar, Minggu.

Ia mengatakan, peran yang sangat penting dalam menciptakan dan melestarian budaya Bali lebih dominan dilakukan penduduk yang bermatapencaharian sebagai petani.

Petani mengembangkan organisasi subak, selain efektif dalam mengatur air irigasi secara adil juga mempunyai peran yang sangat penting dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali.

Dewa Suprapta menjelaskan, subak melalui konsep "Tri Hita Karana" yakni hubungan yang serasi dan harmonis sesama umat manusia, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa, juga telah meletakkan dasar-dasar budaya Bali yang tetap eksis dan kokoh hingga sekarang.

Konsep tentang hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dengan berbagai prinsip demokrasi, toleransi dan saling percaya, dapat memberikan manfaat yang maksimal dan berkelanjutan.

Demikian pula prinsip hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa memberikan ketentuan dasar bagaimana orang Bali harus mewujudkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Sang Pencipta Jagat Raya beserta isinya atas hidup dan kehidupan.

"Tidak berlebihan petani bisa disebut sebagai `Ibu` budaya kita, yang melahirkan, membesarkan, menjaga, sekaligus melindungi," ujar Dewa Suprapta yang juga dosen terbang pada tiga perguruan tinggi di Jepang.

Oleh sebab itu sudah sepantasnya seluruh komponen masyarakat bersama pemerintah bersama-sama melestarikan dan melindungi pertanian maupun petaninya, agar budaya Bali tetap lestari.

Pertanian bukan semata-mata kegiatan produksi, bagian dari aktivitas ekonomi, namun juga memiliki fungsi majemuk dan multifungsi untuk pelestarian, pengembangan seni budaya sekaligus kesejahteraan masyarakat, ujar Dewa Suprapta. (*/bun)