
"Pertama kali gue datang ke Jakarta, yang ada di pikiran gue Jakarta itu pusatnya segala macam yang serba mewah. Yang ada di pikiran gue cuma yang enak-enak, ternyata pikiran gue salah," ujar Wisnu.
Wisnu sendiri masuk ke Jakarta saat dirinya masih duduk di bangku kelas 3 SMP dan sebelumnya ia tinggal di Aceh. Ia mengaku telah banyak merasakan pengalaman pahit hidup di kota Jakarta.
"Pengalaman pahit adalah macet, banjir, air gak bersih. Di Jakarta ini masih ada yang namanya hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Seperti contohnya lahan parkiran," jelasnya.
Sementara, saat ditanya apakah dirinya pernah mengalami kekerasan di Jakarta, Wisnu mengaku pernah dipalak.
"Kalau gua pernah dipalak, tepatnya pas gue masih SMP, sekitar kelas 3 SMP. Waktu itu dinasehati sama tantenya, kalo ada yang minta duit, kasih aja. Waktu itu ada yang minta duit ama gue," katanya.
"Gue inget pesen tante gue, akhirnya gue kasih aja duit. Tapi gue gak ada rasa takut, karena gua pikir itu cuman minta aja, bukan kriminal. Mungkin saat itu gua masih polos atau naif lah. Mungkin campur bego juga kali ya," candanya.
Wisnu juga berkisah bahwa dirinya pernah ngamen saat duduk di kelas 2 SMA. Ia ngamen di sekitar Ragunan, di atas bus kota. Wisnu mengaku bahwa ia hanya iseng saja dan hanya seneng-seneng.
"Dan gue punya pengalaman menarik waktu gue ngamen di daerah Al Azhar. Tepatnya di Roti Bakar Edi. Waktu itu gue ngamen sama temen-temen gue pertama kali. Baru ngamen, gue disamperin sama pengamen yang di sana," kenangnya.
"Trus gua ditanyain, 'Baru pertama kali ya ngamen di sini?'. Kubilang iya. 'Besok-besok jangan ngamen di sini ya, soalnya ini tempat kita'. Akhirnya gue dikasih ngamen sekali di situ, trus besok-besok gue gak ke situ lagi," pungkasnya. (kpl/hen/bun)
Lihat Profil: Teuku Wisnu