Direktur Utama PT Semen Gresik Dwi Sutjipto di Semarang, Selasa (24/6), mengatakan, penggunaan limbah pertanian, sampah, dan limbah pabrik sebagai bahan energi pendamping tersebut mulai dilakukan pada 21 Juni 2008.
"Ini merupakan gerakan konservasi energi dengan mengembangkan limbah pertanian sebagai bahan bakar alternatif," katanya dalam seminar "Strategi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim" yang diadakan Kelompok Diskusi Wartawan (KDW) Jawa Tengah.
Dwi tidak menyebutkan berapa volume batu bara yang bisa dihemat setelah ada konversi limbah tersebut sebagai bahan bakar, namun menegaskan, langkah penting itu mampu menurunkan emisi gas karbondioksida yang dilepas ke udara.
PT Semen Gresik memanfaatkan sekam padi, kulit kacang, sampah, dan limbah pabrik dari daerah Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan. Pabrik semen ini bekerja sama dengan sejumlah perusahaan dalam pemanfaatan hasil samping dan limbah industri.
Ia mengemukakan, penggunaan energi alternatif itu sebagai substitusi bahan bakar fosil yang semakin mahal dan cadangannya terus menyusut karena bersifat tidak terbarukan.
"Substitusi bahan energi alternatif ini akan meningkatkan efisiensi sekaligus sebagai bentuk dukungan total kami terhadap pencegahan pemanasan global," katanya.
Ia menyebutkan, ongkos energi PT Semen Gresik mencapai 32% dari total biaya produksi. Substitusi bahan bakar alternatif tersebut diharapkan bisa menghemat pemakaian batu bara sekitar 10%.
"Ke depan penggunaan bahan bakar alternatif akan terus ditingkatkan," kata Dwi Sutjipto.
Dalam acara sama, Gubernur Jateng Ali Mufiz mengatakan, beban ekologi Jateng dari waktu ke waktu terus meningkat bersamaan dengan naiknya kebutuhan hidup penduduk.
Ia menyebutkan, pada tahun 2007 jumlah rumah tangga di provinsi ini mencapai 8,43 juta dengan produksi sampah kering setiap hari mencapai satu kilogram/rumah tangga. Limbah cair yang dihasilkan per KK mencapai 200 liter/hari.
Produksi limbah tersebut, menurut Gubernur, harus disikapi serius, sebab bisa menimbulkan masalah lingkungan bila tidak ditangani sungguh-sungguh.
Jumlah kendaraan bermotor di Jateng juga terus bertambah dan pada 2007 tercatat terdapat 5,8 juta unit, yang semuanya memproduksi karbondioksida dalam jumlah sangat besar.
"Kendaraan ini meningkatkan emisi gas buang yang dapat menjadi polutan bagi atmosfer," katanya. (*/lin)