
"Tata niaga BBN ditargetkan selesai September. PLN dan Pertamina akan menjadi standing buyer," kata salah satu anggota tim penyusun tata niaga BBN, Roy Hendroko Setyobudi kepada pers disela-sela konferensi antarbangsa mengenai jarak pagar (Jatropha curcas) di Bogor, Selasa.
Konferensi tersebut dihadiri oleh 170 delegasi dari Indonesia, Malaysia, China, Korea, Singapura, Amerika Serikat, Australia, Austria, Jepang, dan Timor Leste.
Selama ini, kata dia, pengembangan BBN dari jarak pagar terkendala oleh masalah pemasaran biji jarak. Petani juga menilai, budidaya jarak pagar tidak menguntungkan buat mereka.
Pengembangan jarak pagar di Indonesia baru dimulai sekitar akhir tahun 2005 untuk mengantisipasi makin mahalnya harga bahan bakar fosil, dengan melibatkan semua stake holder, mulai dari petani, pemerintah, swasta dan BUMN.
Namun, langkah tersebut tidak diimbangi oleh kepastian harga serta pasar biji jarak.
Roy yang juga Kepala Penelitian dan Pengembangan Sinar Mas Energi Alternatif mengatakan, pihaknya membeli biji jarak kering seharga Rp1.100 per kilogram dari petani.
Setiap empat kilogram biji jarak bisa diolah menghasilkan satu liter biodiesel.
Dengan asumsi rendemen 25 persen dan biaya produksi Rp2.000, pihaknya bisa menjual biodiesel dengan harga Rp6.500 hingga Rp7.000 per liter ke PLN atau Pertamina.
Harga tersebut masih lebih rendah dari harga diesel MOPS yang dibeli PLN yang mencapai Rp8.000 per liter, kata dia.
Sinar Mas menargetkan bisa mengembangkan jarak pagar dengan produktifitas 10 ton per hektare. "Saat ini produktifitas lahan di Cikarang, Bekasi baru delapan ton per hektare," katanya.
Ia optimis target tersebut bisa dicapai jika menggunakan bibit unggul dan budidaya yang benar.
Roy menilai, pada awal program pengembangan jarak pagar pemerintah terlalu tergesa-gesa menyebarkan benih tanpa mempertimbangkan produktifitasnya.
"Benih yang dipakai banyak yang tidak produktif, bahkan ada juga yang tidak menghasilkan buah," katanya.
Akibatnya petani yang sudah bersemangat menanam jarak pagar kecewa.
Varietas baru
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan Departemen Pertanian, Dr Syakir mengatakan, pihaknya telah berhasil mengembangkan benih sumber (IP3) yang baru untuk jarak pagar dengan produktifitas lebih tinggi mencapai 8-10 ton per hektar.
"IP3 produktifitasnya bisa mencapai 8-10 ton per hektare, sedang IP2 dan 1 masing-masing produktifitasnya baru mencapai enam dan lima ton per hektare," katanya.
Benih IP3 ini baru dikembangkan dalam kebun skala kecil di Sukabumi.
Saat ini, Puslitbang Perkebunan mempunyai tiga lahan pengembangan benih sumber di Sukabumi (Jawa Barat) seluas 50 hektare, Muktiharjo (Jawa Tengah) dan Asembagus (Jawa Timur) masing-masing seluas 10 hektare.
Beberapa kelebihan minyak jarak diantaranya, menghasilkan energi 1,5 hingga 2 kali lebih tinggi dibandingkan minyak tanah.
Dibandingkan dengan bahan bakar nabati dari CPO, titik beku minyak jarak jauh lebih rendah sehingga bisa digunakan pada musim dingin tanpa perlu zat tambahan. (*/lin)