< >

Investasi Asing Dinilai Belum Berkualitas

Selasa, 24 Juni 2008 19:38
Kapanlagi.com - Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai investasi asing langsung (foreign direct investment) masih belum berkualitas, karena belum mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan infrastruktur dalam jumlah signifikan.

"Realisasi investasi asing meningkat namun masih didominasi sektor jasa dan bukan pada sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja," kata Faisal Basri pada diskusi "Kepastian Investasi dan Keselarasan Regulasi Pemerintah", di Jakarta, Selasa (24/6).

Menurut Faisal, pada tahun 2007 investasi di Indonesia tumbuh sebesar 25% dibanding tahun sebelumnya, namun kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi seharusnya juga meningkat.

"Pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan 6,3% tahun 2007 lebih didorong tingginya tingkat konsumsi, bukan karena investasi. Nilai investasi sebagian besar oleh sektor swasta khususnya domestik, sedangkan swasta asing relatif kecil," ujarnya.

Dijelaskannya, sektor-sektor yang berkembang juga merupakan yang bisa disebut "jago kandang" antara lain sektor telekomunikasi, listrik, air minum, dan jasa kepelabuhanan.

Ia juga menilai investasi saat ini makin salah arah, tercermin dari 75% investasi ke sektor konstruksi bangunan, hanya sekitar 6,4% membeli barang mesin dalam negeri, dan sekitar 17,2% barang mesin dari luar negeri.

Faisal membagi empat tahapan investasi di Indonesia, yaitu saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid sebagai masa gonjang-ganjing pasca krisis ekonomi, saat kepemimpinan Megawati Soekarnoputri masa konsolidasi, dan era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai momentum kebangkitan investasi dan sedikit menurun sebagai dampak dari turunnya ekonomi global.

"Di masa Presiden SBY investasi cenderung melonjak, namun sektor manufaktur seakan mati karena investasi lebih didominasi ke sektor `tradeable`," kata Faisal.

Sejatinya, diutarakan Faisal, tidak ada alasan bagi investor asing menghindar dari Indonesia, selain karena pasar dalam negeri yang besar juga memiliki potensi yang luar biasa di masa datang.

Terbukti, meskipun peringkatnya menurun, Jepang masih menempatkan Indonesia sebagai tujuan investasi terbesar setelah sejumlah negara seperti India dan China, Thailand, Malaysia.

Pada tahun 1995 Indonesia menduduki peringkat tiga investasi bagi Jepang, namun pada tahun 2007 turun ke peringkat ke delapan dan kembali ke peringkat ke tujuh pada tahun 2008.

Untuk itu diutarakan Faisal yang juga pernah calon Gubernur DKI Jakarta ini, pemerintah harus cepat-cepat memanfaatkan momentum kebangkitan investasi tahun 2008 ini dengan memberi semacam insentif bagi investor asing berupa pemangkasan berbagai pungutan atau pajak.

"Dengan memberikan insentif investor diharapkan memiliki kemampuan dana untuk membangun infrastruktur yang ujungnya meningkatkan kapasitas produksi dan menciptakan lapangan kerja," ujarnya.

Sedangkan dari sisi kebijakan perdagangan (trade policy) diperlukan insentif dalam bentuk penurunan atau bahkan menghapuskan bea masuk, PPN BM, terutama untuk bahan baku industri.

Hal lain yang menjadi perhatian investor asing adalah perlunya kepastian investasi dalam bentuk iklim usaha yang kondusif serta adanya regulasi yang mampu mendorong minat pemodal masuk ke dalam negeri. (kpl/rif)