Letkol Supriyadi bersama dua rekannya dari Dinas Survey dan Pemotretan Udara TNI AU, yakni Kol Jaka Ara dan Kapten Donny beserta belasan tamu lainnya masih belum ditemukan Tim SAR, begitu pun bangkai pesawat dengan nomor registrasi A 2106.
Yetti mengaku baru mengetahui kabar tentang suaminya pada Kamis malam dari seorang perwira TNI AU Letkol Tambun.
"Tadinya saya tidak percaya, dengan keterangan dia. Lalu saya minta daftar penumpang hari itu dan ternyata benar nama suami saya berada di urutan nomor 4 dari 13 penumpang," ungkapnya.
Ia menambahkan, beberapa hari belakangan suaminya memang sangat sibuk mempersiapkan penerbangan yang bertujuan menguji kamera baru tersebut. Namun, pada Kamis itu, suaminya tidak memberitahukan perihal kegiatannya sepanjang hari itu.
"Baru setelah dikabari dan lihat namanya di manifes, baru saya tahu dan yakin suami saya ikut dalam penerbangan itu," tutur Yetti.
Pesawat Cassa N212-200 yang bermarkas di Skadron 4 Pangkalan Udara Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, merupakan pesawat angkut ringan yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pemotretan dan survey udara.
Dalam rangka uji coba kamera baru, pesawat itu pada Kamis pagi sekitar pukul 10.00 WIB tinggal landas dari Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma menuju Bogor.
Namun, sekitar pukul 11.30 WIB, Menara Pengawas di Pangkalan Udara Atang Senjaya Bogor kehilangan kontak.
Pesawat yang dikemudikan Mayor PNB Adriyanto dengan Co Pilot Kapten PNB Agung Priandono diduga jatuh di Desa Curug Nangka, di kaki Gunung Salak, sesuai keterangan yang diberikan masyarakat yang melihat sempat berputar-putar di atas wilayah tersebut.
Hingga kini TIM SAR gabungan dari TNI, Polri serta Badan SAR Nasional masih melakukan pencarian dan menentukan titik-titik lokasi yang diduga menjadi tempat hilangnya pesawat. (*/cax)