< >

Dalai Lama Harapkan Kemajuan Dalam Perundingan Dengan China

Rabu, 02 Juli 2008 23:55
Kapanlagi.com - Dalai Lama, Rabu, berharap bahwa putaran terakhir perundingan antara para utusannya dan China akan mencapai kemajuan, seraya menyatakan bahwa situasi di Tibet sekarang dalam keadaan `kritis.`

Dalam sepucuk surat yang dibacakan pada satu konferensi di Tokyo dari orang-orang Jepang pendukung Tibet, Dalai Lama mengatakan, bahwa putaran perundingan yang dibuka Selasa di Beijing `terjadi pada saat Tibet dalam keadaan pelik.`

"Saya berharap putaran ketujuh dari perundingan ini akan menyokong pelaksanaan beberapa kemajuan dalam pembicaraan-pembicaraan kami," kata pemimpin spiritual Tibet itu, yang tinggal di pengasingan hampir setengah abad di India.

China mengatakan sedikit mengenai perundingan Beijing, yang dibuka tiga bulan yang lalu setelah terjadi aksi protes besar di Tibet terhadap penguasa China yang kontroversial, atas wilayah Himalaya yang sebagian besar penduduknya menganut Budha itu.

Aksi penumpasan kerusuhan, yang menyebar luas ke daerah-daerah yang dihuni oleh warga Tibet di China barat, memicu demonstrasi global yang mengganggu kirab internasional obor Olimpiade Beijing selama sebulan.

Perundingan terakhir terjadi setelah putaran tak resmi pembahasan-pembahasan yang dilakukan 4 Mei di kota China Shenzhen, setelah terjadi tekanan global untuk dimulainya kembali dialog setelah aksi kerusuhan. Perundingan-perundingan resmi diluncurkan pada tahun 2002, namun pecah pada tahun lalu.

"Tibet sekarang telah melalui periode yang sangat kritis, dengan orang-orang Tibet yang berhasil selamat. Tapi, situasi di Tibet terus akan suram," kata Dalai Lama.

"China kini tak kurang upayanya untuk mengasimilasikan Tibet dan mengikis kebudayaan serta warisan spiritual rakyat Tibet.

"Untuk alasan itu penting bagi masyarakat internasional untuk berbicara atas nama rakyat Tibet," katanya.

Dalai Lama, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1989 mengulangi bahwa dia tidak mengharapkan kemerdekaan Tibet dari China, atau melakukan aksi-aksi kekerasan seperti yang dituduhkan oleh China.

"Kami masih memegang komitmen untuk memecahkan masalah Tibet melalui dialog dan diskusi, dalam rangka mendapatkan solusi yang saling bisa diterima - dan ini, sudah tercakup di dalam konstitusi Republik Rakyat China," katanya.

"Kami tidak anti-China ataupun anti-orang China, dan kami telah menjadi pengawal besar bagi China dan rakyatnya. Adalah sangat penting bahwa kami berupaya untuk menjadi saudara laki dan saudara perempuan rakyat China, sekuat mungkin," katanya.

Konferensi Tokyo diikuti oleh sekitar 200 orang termasuk para anggota parlemen dari partai oposisi Jepang. (kpl/rif)