"Kami menangkap sekitar 300 penentang," kata Ramesh Thapa, perwira polisi di tempat kejadian itu, kepada kantor berita Prancis AFP, dengan menambahkan bahwa mereka akan dibebaskan pada hari itu juga.
Penentang itu, kebanyakan wanita dan biksu, melambaikan bendera pemerintah pengasingan Tibet dan berteriak "Kami ingin Tibet bebas" saat berbaris ke gedung perdagangan dan konsuler China, kata saksi di tempat kejadian tersebut.
Biksu dan biksuni berkepala plontos dan berjubah merah tua termasuk di antara yang ditahan sewaktu mencoba menyerbu kantor visa kedutaan besar China, kata polisi.
Tiga penentang berusaha menembus penjagaan polisi dan berlari ke gerbang gedung itu dan menyepaknya dengan berteriak, "China pembohong."
Mereka kemudian dengan cepat ditahan polisi.
Pengungsi itu dimasukkan ke mobil gerbong dan truk polisi sesudah bentrok singkat dengan polisi penanggulangan huru-hara.
Sebelumnya pada pekan ini, sekelompok 42 pengunjuk rasa Tibet ditahan di dekat perbatasan Nepal dengan daerah Himalaya dikuasai China sewaktu mereka mencoba berpawai pulang ke tanah air mereka.
Pengungsi Tibet berunjuk rasa di Katmandu hampir setiap hari sejak kerusuhan meledak di daerah Himalayan itu pada Maret dan ditangani dengan penumpasan keras oleh pemerintah China.
Nepal, rumah sekitar 20.000 orang Tibet, secara resmi mengakui Tibet sebagai bagian tak terpisahkan China dan melarang semua unjuk rasa mendukung Tibet sebagai rasa hormat pada tetangga raksasanya di utara itu.
Sekitar 500 warga terasing Tibet pada akhir Juni ditahan polisi Nepal saat berunjuk rasa di luar gedung kedutaanbesar China menentang persinggahan obor Olimpiade di Tibet.
Penonton dipilih dengan seksama menyambut pelari ketika obor melewati Lhasa, ibukota Tibet, hari itu, persis tiga bulan setelah kerusuhan terhadap pemerintah China di wilayah tersebut.
Pengunjuk rasa, sebagian besar wanita dan biksu, melambaikan bendera pemerintah pengasingan Tibet dan berteriak "Cina pembohong, tinggalkan Tibet", "Kami ingin Tibet merdeka" dan semboyan lain.
Polisi huru-hara membubarkan unjuk rasa itu dan membawa ke mobil gerbong dan truk setelah bentrok singkat.
Beberapa dari pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan "Tidak ada hak asasi, tidak ada obor Olimpiade 2008 di Tibet".
"Tibet bukan bagian dari China. Pemerintah China tidak memiliki hak membawa obor Olimpiade di Tibet," kata Tsering (20 tahun) sebelum polisi menariknya.
"China seharusnya tidak diizinkan mengadakan Olimpiade," kata Sonam (24 tahun), pengunjuk rasa lain.
Pemerintah Nepal sebelumnya menyatakan tidak akan menenggang unjuk rasa menentang China dan akan menggunakan kekerasan untuk membubarkan unjuk rasa tersebut. Pernyataan itu mendapat kecaman masyarakat antarbangsa.
Di Nepal terdapat lebih dari 20.000 warga Tibet, yang terutama terkumpul di lembah Katmandu dan Pokhara di Nepal barat.
Jumlah itu tidak termasuk warga Tibet tiba di negara tersebut setelah tahun 1990, karena pemerintah Nepal menghentikan pencatatan mereka sebagai pengungsi.
Kelompok hak asasi menyatakan sekitar 3.000 warga Tibet tiba di Nepal setiap tahun, dengan menyeberangi jalur berbahaya pegunungan dan menyelamatkan kehidupan mereka dengan lari dari kekuasaan China. (kpl/rif)