< >

Tentara Tinggalkan Pusat Kekacauan di Sudan

Sabtu, 05 Juli 2008 14:24
Kapanlagi.com - Tentara dari Sudan utara dan selatan yang bersaing mundur dari daerah pusat kekacauan Abyei yang diperebutkan tapi saling mengejek pada saat keberangkatan mereka yang diminta menurut cetak biru untuk memulihkan perdamaian.

Seorang pejabat PBB mengatakan Tentara Pembebasan Rakyat Sudan selatan telah bergerak ke selatan dan bahwa Pasukan Bersenjata Sudan mulai ditarik mundur Jumat.

"Tidak ada kehadiran SPLA di daerah itu, kami di luar," pejabat SPLA Mayor Jenderal Daniel Parnyang mengatakan pada wartawan, menuduh saingannya SAF mengabaikan tenggat waktu 30 Juni untuk mundur.

Pertempuran antara tentara SAF dan SPLA Mei menewaskan sedikitnya 89 orang dan menelantarkan lebih dari 30.000 orang, Politisi selatan telah minta komandan SAF dibawa ke pengadilan karena yang diduga kejahatan terhadap kemanusiaan.

Menurut perjanjian peta jalan 8 Juni antara bekas musuh, utara dan selatan, satu unit militer yang diintegrasikan bersama akan dikerahkan di Abyei dan memulihkan keamanan setelah pertempuran yang memicu kekhawatiran akan perang saudara baru.

Parnyang mengatakan ada salah paham mengenai apakah pasukan itu diharuskan mundur dari daerah Abyei yang lebih luas atau kota Abyei.

"Penarikan itu di luar daerah Abyei -- pasukan mereka di dalam, pasukan kami di sepanjang perbatasan, tapi di sisi luar," katanya.

Namun seorang juru bicara SAF menyerang SPLA karena "campur tangan" dalam urusan Presiden Sudan Omar al-Bashir dan Wakil Presiden Salva Kiir, yang adalah pemimpin Sudan selatan. Kedua pemimpin itu menandatangani perjanjian 8 Juni.

"SPLA tidak menarik pasukan mereka. Mereka hanya di selatan sungai Bahr al-Arab. Proses penarikan (kami) terus-menerus dan berangsur-angsur," kata juru bicara itu.

Keamanan di Abyei diharuskan menjadi tanggung jawab lebih dari 600 tentara gabungan yang akan mulai dikerahkan ke distrik yang diperselisihkan itu pada 18 Juni.

Utara dan Selatan masih membicarakan siapa yang akan menyusun pemerintah sementara untuk Abyei tapi menyetujui arbitrasi internasional untuk menyelesaikan perselisihan mengenai siapa yang akan mengontrol distrik kaya-minyak itu.

Pada 2011, Abyei akan mengadakan referendum mengenai apakah akan memperoleh kembali status pemerintah khususnya di utara atau bergabung dengan selatan, yang dapat memutuskan dalam referendum terpisah untuk melepaskan diri dari utara.

Pertempuran Mei dianggap sebagai ancaman terbesar pada proses damai yang masih muda yang mengakhiri perang saudara 21 tahun antara utara dan selatan pada 2005 setelah lebih dari 1,5 juta orang tewas. (*/cax)