"Membuat film bagi saya harus mencintai subjeknya," dalih Garin di Gedung Kertaniaga, (8/7). Ia pun memilih Slank bukan tanpa alasan. Berawal dari menangkap inspirasi parade musical We Will Rock You–nya Qeen, Slank dipilih karena mereka bisa mewakili Indonesia. Dari era 80–an sampai sekarang ini. Bagi saya tidak ada grup rock terbesar selain Slank di negeri ini," gadang Garin.
Makanya Garin menggarap film ini dengan serius. Apalagi Slank dinilainya sebagai seni budaya yang luar biasa saat ini. Terbukti Garin rajin melakukan riset. Dari menyambangi Slankers di seluruh Indonesia, mengumpulkan artikel tentang Kaka cs, bahkan dokumenter Xanana Gusmao, saat Slank konser di Timor Leste pun telah diambilnya. "Semuanya sangat detil," ungkapnya.
Dari situ, Garin tahu bahwa Slankers tak semuanya mania. Ada pula yang hanya buat cari duit atau pun seneng–seneng. Garin juga menampik anggapan dirinya memfilmkan Slank karena mereka digugat DPR. "Saya merancang ini sebelum mereka digugat DPR. Sebaliknya dengan kasus tersebut Slank menjadi bagian dari sejarah Indonesia," katanya mantap. (kpl/ang/tri)
Lihat Profil: Garin Nugroho, Slank