"Terus terang, saya tak kuat lagi menalangi tim ini. Untuk itu kami butuh bantuan dari sponsor. Jika tidak, terpaksa kami mundur dari kompetisi,'' ungkap Manajer Tim, Harry Ruswanto. yang akrab dipanggil Gendhar itu.
Total kebutuhan operasional Persitara dalam satu musim adalah Rp12 miliar. Tapi, manajemen tim baru menerima sekitar Rp3 miliar, itu pun berkat kucuran dana dari sponsor. Sisanya, sebesar Rp.9 miliar, adalah tanggungan APBD DKI.
Belum turunnya dana dari APBD yang menjadi satu-satunya sumber nafas Persitara Jakarta Utara dalam mengarungi Liga Super Indonesia (LSI) itu membuat mereka akan menghadapi kemungkinan terburuk, mundur dari kompetisi.
Saat melakoni laga derby dengan Persija Jakarta di pertandingan pertama LSI, Senin (14/7) kemarin, sempat tertunda selama 20 menit.
Hal itu disebabkan karena Persitara belum membayar uang sewa lampu stadion kepada pihak pengelola. Bahkan, permintaan kru televisi Antv yang hendak melakukan setting sebelum pertandingan pun, tak dihiraukan pengelola.
"Ya, kami memang belum membayar sewa lampu tersebut. Sebelumnya, kami sudah sepakat untuk pinjam dulu,'' ujar Manajer Tim, Harry Ruswanto.
Kini mereka dipusingkan saat menggelar laga kandang lagi bertemu Persela Lamongan, Minggu (20/7), karena tak ada dana lagi untuk menalanginya. (kpl/rsd)