< >

Gagal Reformasi Konstitusi, Pemerintah Koalisi Belgia Mundur

Selasa, 15 Juli 2008 22:42
Kapanlagi.com - Pemerintahan koalisi Belgia yang dipimpin oleh Perdana Menteri Yves Leterme mundur setelah berusaha bertahan selama empat bulan karena gagal untuk mencapai kesepakatan melakukan reformasi konstitusi.

Pemerintahan yang dipimpin kelompok Kristen "Flaam" Demokrat telah mengajukan pengunduran diri mereka kepada Raja Albert ke II Senin malam.

Namun, setelah melakukan rapat pertemuan selama empat jam, Raja Albert II Selasa menolak pernyataan pengunduran diri Perdana Menteri Yves Leterme beserta seluruh anggota kabinetnya, kantor berita Belgia Belga melaporkan.

Pemerintahan di bawah pimpinan Leterme menyatakan mengundurkan diri setelah gagal mencapai satu kata untuk menemukan pemikiran dasar bagi rencana reformasi reformasi konstitusi sampai mencapai batas waktu yang diberikan 15 Juli lalu .

Hal penyebab utamanya adalah perbedaan budaya antara kelompok masyarakat Belgia keturunan Belanda, kelompok Flaam dengan kelompok warga yang berbahasa ibu Perancis, Waloons".

Kedua belah masyarakat warga Belgia masing-masing ingin meningkatkan pengaruhnya di negeri tetangga keranjaan Belanda itu di mana masyarakat Flaam menuntut tanggung jawab yang lebih besar bagi wilayah mereka.

Terutama dalam hal reorganisasi bagi konstituen multi bahasa di wilayah Brussels yang saling diperebutkan oleh masing-masing pihak.

Leterme dalam pernyataannya menyatakan perbedaan sudut pandang dari dua kelompok berdasarkan bahasa tak dapat diselesaikan ataupun menemukan jalan keluarnya pada saat ini.

Pemerintah koalisi yang di bawah pimpinan Leterme dari Kristen Demokrat juga termasuk kelompok Konservatif dan Liberal dari dua kelompok masyarakat yang berbeda berdasarkan bahasa mereka baru terbentuk sejak Maret lalu.

Kepala kelompok masyarakat Konservatif berbahasa Prancis, Jelle Milquet sebelumnya mengatakan, ia menyesali keputusan Leterme dan menyeru agar segera mengambil langkah-langkah konkrit guna menghindari krisis pemerintahan, demikian dikatakan Milquet seperti yang dikutip kantor berita Belga.

Setelah pemilihan umum Juli 2007 perbedaan sudut pandang antara para politisi yang berbahasa Belanda dengan politisi dari kelompok berbahasa Perancis terbuka lebar dan telah memicu krisis pemerintahan yang terlama dalam sejarah negara yang berbentuk kerajaan yang termasuk salah satu yang tertua di benua Eropa. (kpl/rif)