< >

Pemberontak Kolombia Tolak Bicara Dengan Uribe

Rabu, 16 Juli 2008 10:45
Kapanlagi.com - Pemberontak Marxis Kolombia FARC menolak pembicaraan damai dengan pemerintah Presiden Alvaro Uribe, menurut sepucuk surat yang diperlihatkan di televisi Venezuela Selasa.

Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia, yang dikenal dengan singkatannya dalam bahasa Spanyol FARC, malahan minta bertemu dengan Presiden Nikaragua Daniel Ortega yang condong ke-kiri, menurut surat yang disiarkan di Telusur itu.

"Uribe tidak diprogram oleh gringo (Amerika) untuk perdamaian atau pertukaran (sandera atau tawanan)," kata surat tertanggal 26 Juni itu.

"Hanya pemerintah baru, sungguh-sungguh demokratis, yang muncul dari satu perjanjian nasional yang luas, dapat kembali ke jalan untuk mencari solusi politik hingga sosial dan konflik bersenjata yang Kolombia alami," kata pernyataan itu.

Ditujukan pada Ortega, surat yang ditandatangani oleh dewan kepemimpinan FARC itu mengatakan: "Kami ingin bicara secara pribadi dengan anda atau utusan anda mengenai topik perang dan perdamaian".

Kelompok pemberontak itu mengatakan tukar-menukar sandera-untuk tawanan dengan pemerintah Kolombia akan menjadi "langkah pertama untuk membangkitkan atmosfir hak untuk membicarakan mengenai perdamaian".

Surat itu ditulis sebelum militer Kolombia menyelamatkan 15 sandera, termasuk tiga warga Amerika dan politikus Perancis-Kolombia Ingrid Betancourt, yang telah disandera selama beberapa tahun oleh FARC.

FARC, pemberontak tertua dan terbesar di Amerika Latin, telah berusaha untuk menjatuhkan pemerintah sejak 1960-an. Mereka diperkirakan menyandera lebih dari 700 sandera untuk memperoleh uang tebusan atau sebagai bahan tawar-menawar politik.

FARC berterima kasih pada Ortega karena memberi suaka pada dua wanita gerilya FARC yang melarikan diri dari serangan militer Kolombia di sebuah kamp pemberontak di Ekuador pada 1 Maret yang menewaskan wakil komandan kelompok itu Raul Reyes.

Presiden Nikaragua, bekas pemimpin gerilyawan Sandinista yang menjatuhkan diktator Nikaragua Anastasio Somoza pada 1979, memutuskan hubungan diplomatik dengan Bogota setelah serangan Maret, sebagaimana dilakukan oleh Ekuador.

Akhir pekan lalu, pemimpin sayap kiri itu mengatakan misi pertolongan sandera Kolombia awal bulan ini -- yang tidak menumpahkan satu tetes darah pun -- telah "membunuh kemungkinan pembicaraan dalam waktu dekat" antara FARC dan Bogota.

Ortega dan rekan sayap kirinya Presiden Rafael Correa, dari Ekuador, dan Hugo Chavez, dari Venezuela, mengadakan pertemuan Selasa di Ekuador untuk membicarakan Kolombia. (*/cax)