"Tidak ada ruang bagi konsesi atau kompromi karena Dokdo adalah masalah kedaulatan wilayah kita," Presiden Lee Myung-Bak mengatakan pada pertemuan kabinet, meminta dukungan "strategis dan non-partisan".
Kepulauan karang di Laut Jepang (Laut Timur) -- dikenal sebagai Takeshima di Jepang dan Dokdo di Korea Selatan -- telah disengketakan selama berabad-abad.
Perselisihan baru itu meletus Senin ketika Tokyo mengungkapkan garis panduan pendidikan baru yang minta siswa Jepang untuk memiliki pengertian yang lebih dalam atas klaim negara mereka akan kepulauan tersebut.
Jepang telah minta ketenangan karena perselisihan itu tapi langkah tersebut telah memicu kemarahan di Seoul.
Korea Selatan menarik pulang duta besarnya untuk Jepang, Kwon Chul-Hun, sebagai protes setelah ia menemui pejabat Jepang untuk menyuarakan perasaan tidak senang pemerintahnya.
Kwon mengatakan pada surat kabar Munhwa Ilbo Rabu bahwa ia telah memperingatkan Jepang bahwa negara itu mungkin akan kehilangan dukungan dari Seoul dalam masyarakat internasional.
"Saya telah menyampaikan keprihatinan kami pada Jepang bahwa mungkin akan sulit untuk terus maju" dengan pertemuan puncak trilateral yang melibatkan pemimpin China, Jepang dan Korea Selatan di Tokyo, ia dikutip mengatakan.
PM Jepang Yasuo Fukuda telah dijadwalkan akan berkunjung ke Seoul September atau awal Oktober, sementara Lee akan berkunjung ke Tokyo September untuk pertemuan puncak dengan pemimpin Jepang dan China, kata Kwon.
Korea Selatan menganggap tindakan Tokyo itu sebagai "invasi atas wilayah mereka", katanya.
Ketika Lee bertemu dengan Fukuda di Tokyo April, mereka setuju untuk memusatkan perhatian pada masa depan dalam hubungan mereka ketimbang mengenai kolonisasi brutal Jepang abad ke20 atas semenanjung Korea.
Mereka juga setuju untuk memulai lagi pertemuan puncak tahunan kedua yang ditangguhkan pada 2005.
Perselisihan itu telah menyebabkan sebuah sekolah Korea Selatan membatalkan kunjungan akhir bulan ini oleh sebuah sekolah kembar di kota Tottori di bagian barat Jepang, pejabat pendidikan setempat Yoshitada Hashimoto mengatakan di Jepang.
Sekolah Korea di Chengju mengirim faks yang mengatakan sekolah itu membatalkan lawatan tersebut di luar pertimbangan keadaan domestik dan sentimen publik pada masalah belakangan ini" yang mengitari pulau itu, kata Hashimoto.
Korea Selatan menempatkan satu unit kecil polisi maritim di kepulauan yang mencakup kawasan seluruhnya 18,7 hektar itu.
Jepang mengklaim kepulauan itu pada 1905 setelah menang perang dengan Rusia di wilayah itu. Negara itu kemudian mencaplok seluruh semenanjung Korea dari 1910 hingga kekalahannya pada 1945 dalam Perang Dunia II. (*/cax)