"Paling bagus kita melihat polling itu secara utuh sehingga kita melihat gambaran lebih utuh, karena satu polling belum tentu merepresentasikan semua hal," kata Andi di Istana Negara, Kamis (17/7), seusai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka Rakornas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2008, saat ditanya pendapatnya mengenai hasil jajak pendapat CSIS.
Menurut Andi, jajak pendapat yang selama ini dilakukan oleh berbagai jenis organisasi tersebut sampel dan metodologinya bermacam-macam sehingga hasilnya pun berlainan, oleh karena itu harus diperhatikan betul kredibilitasnya.
"Kita lihat masing-masing polling, lain-lain angkanya. Kalau saya lihat rata-rata lain-lain, metodologi macam-macam, sampel juga lain-lain. Kalau kami lihat mana yang kredibel, bagaimana sampelnya, yang CSIS ini kalau tidak salah hanya (dilakukan di) 13 propinsi," katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, penurunan popularitas Presiden Yudhoyono pasca kebijakan kenaikan BBM telah beberapa kali terjadi, namun tidak berapa lama kemudian naik kembali.
"Itu adalah suatu hal yang telah diantisipasi, bagaimanapun sebagai pemerintah harus mengambil risiko (membuat kebijakan yang tidak selalu menyenangkan publik)," katanya.
Andi juga mengatakan bahwa secara keseluruhan di sejumlah survei, Partai Demokrat menempati urutan ketiga.
"Kita punya strategi kampanye, kan masih 9 bulan lagi. Kita punya strategi, tentu saja sebagian sudah dijalankan, sebagian sudah dipersiapkan, ada proses konsolidasi, ada proses kampanye, ada proses bagaimana melakukan strategi kampanye," katanya seraya menambahkan bahwa 30% responden dalam survei CSIS belum menentukan pilihan.
Andi mengakui bahwa tidak dapat dipungkiri jika Partai Demokrat dan Presiden Yudhoyono laiknya dua sisi mata uang dalam keping yg sama, ketika popularitas Presiden Yudhoyono turun karena kenaikan harga BBM, Partai Demokrat juga terkena imbasnya.
"Tapi kalau naik lagi ya Partai Demokrat naik lagi. Polling itu adalah snapshot, seperti kamera yang melihat kenyataan dari angle tertentu, angle itu berdasarkan metodologinya. Ini akan kita lihat sebagai bagian dari snapshot," ujarnya.
Sementara itu pada Selasa (15/7) hasil survei yang dilakukan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa PDI Perjuangan, Partai Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan tiga partai teratas yang banyak dipilih oleh responden, jika pemilu dilakukan saat ini.
PDI Perjuangan masih menjadi partai yang paling populer dengan memperoleh dukungan sebesar 20,3% responden, diikuti Partai Golkar dengan dukungan 18,1% dan PKS dengan 11,8%.
Partai berikutnya ditempati oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan dukungan sebesar 6,8%, selanjutnya Partai Demokrat sebesar 5,2%, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan 2,7% dan Partai Amanat Nasional (PAN) dengan 1,7%.
Dalam survei tersebut, sebanyak 30% responden menyatakan belum menentukan pilihan dan sebanyak 6,1% lainnya lebih memilih partai-partai lain.
Sedangkan terhadap pertanyaan calon presiden yang akan dipilih jika pemilu dilakukan saat ini, hasil survei menunjukkan bahwa Megawati Soekarnoputri masih menempati urutan teratas dengan 23,2%.
Urutan kedua ditempati Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan 14,7%, diikuti Sri Sultan HB X dengan 8,8%, Hidayat Nur Wahid dengan 7,9%, Wiranto 7,6%, Jusuf Kalla 4,2%, dan Gus Dur dengan 3,6%.
Sebanyak enam persen responden menjatuhkan pilihannya pada calon-calon presiden lainnya dan 24% responden menyatakan belum tahu akan memilih siapa. (kpl/rif)