"Kebanyakan pengusaha besar dan kecil di Indonesia hanya dapat meminta dan menuntut fasilitas, baik berupa kredit murah maupun hak monopoli atau kemudahan perijinan," kata mantan Cief Eksekutif Officer (CEO) Tupperware Indonesia, Nur Kuntjoro di Jakarta, Jumat (18/7).
Nur dimintai tanggapanya soal adanya Indonesia Berprestasi Award (IBA) 2008 yang akan memberikan penghargaan kepada para pendidik, entrepreneurship, seni dan budaya, bidang sosial kemasyarakatan dan orang yang memajukan bidang teknologi dan informasi.
Menurutnya, saat ini terdapat 40 juta UMKM, namun dari jumlah itu belum banyak membantu penyerapan tenaga kerja saat jumlah pengangguran cukup tinggi dan pemerintah tidak dapat mendorong pertumbuhan investasi yang tinggi, sementara kalangan swasta juga mengalami kesulitan likuiditas keuangannya.
"Seandainya UMKM itu mempunyai jiwa wira usaha mandiri, tanpa bermental peminta-minta, mereka akan tetap tumbuh dan berkembang," katanya seraya menambahkan, dari 40 juta UMKM itu akan dapat menyerap tenaga tambahan 80 juta orang jika diasumsikan satu unit UMKM menambah 2 orang tenaga kerja.
Ia memberikan contoh banyak orang di Indonesia mempunyai prestasi bagus di ajang lomba internasional baik di bidang matematika, biologi maupun kemajuan teknologi dan informasi.
Di bidang wira usaha, juga banyak tokoh yang dapat disebut berhasil tanpa mereka mendapat fasilitas dan hak monopoli dari pemerintah.
Sebut saja tokoh Bob Sadino, sukses di bidang Kem Cik, tanaman hidropoinik dan bidang pertanian lainnya. Dulunya, Bob adalah seorang penjaja telor ikan asin yang keliling dari kampung satu ke kampung lainnya. Demikian juga tokoh lain seperti Tirto Utomo, mantan pegawai pertamina, usai pensiun tidak mau duduk-duduk menikmati gaji pensiunannya, tetapi merintis menjual minuman botol (air bersih) berupa aqua.
Produk aqua, hasil dari ide mantan pensiuanan itu tersebar di seluruh Indonesia, dan perusahaannya tetap sehat dan kuat tanpa mendapatkan fasilitas dari pemerintah. Selain dua orang itu juga masih banyak pengusaha yang sukses, sebut saja Junardi yusuf, pengusaha dari Solo Jawa Tengah itu kini merintis obat-obatan generik, Komix yang juga sukses memasarkan produknya sampai ke luar negeri.
Junardi, kata NurKuntjoro, yang juga pemilik quantum Counsultan, termasuk 150 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes.
Oleh karena itu, kata Nur, tugas pemerintah saat ini sebaiknya terus menumbuhkan jiwa wira usaha rakyatnya melalui traning-training kepada masyarakat kota dan desa, agar mereka mempunyai jati diri dan tidak bermental pengemis.
Kurikulum pendidikan, katanya, juga harus direvitalisasi agar lulusan perguruan tinggi yang jumlahnya tiap tahun mencapai jutaan orang, tidak menjadi penganggur, tetapi didorong untuk bekerja secara mandiri.
"Kurikulum yang ada hanya mendidik orang untuk menjadi seorang birokrat dan juru tulis atau ketik di sebuah kantor atau perusahaan. Ini berbeda dari yang diajarkan di China dan Korea Selatan," katanya. (kpl/rif)