"Tahap pertama pabrik yang di Banjarmasin dengan kapasitas produksi 1,5 juta ton. Tahap berikutnya pabrik dengan kapasitas sekitar 1,5 juta ton lagi," kata Deputi Bidang Pelayanan Investasi, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Achmad Kurniadi di sela-sela Konvensi Bisnis Internasional Pengusaha Indonesia dan Tionghoa Terkemuka Sedunia di Jakarta, Jumat (18/7).
Menurut Achmad, rencana investasi pembangunan pabrik baja oleh perusahaan China itu akan direalisasikan dalam dua tahap selama lima tahun ke depan dan untuk pembangunan pabrik baja yang kedua itu, China Steel masih mencari lokasi yang tepat.
"Izin investasi yang pertama di Banjarmasin itu karena dekat dengan sumber bahan bakunya, selanjutnya (untuk pabrik kedua) mereka masih mempertimbangkan lagi di mana lokasinya. Kan masih banyak wilayah kita yang bagus-bagus," jelas Achmad.
Achmad berharap para pengusaha China yang hadir dalam konvensi tersebut tertarik untuk berinvestasi di sektor lain seperti manufaktur dan transportasi.
"Investasi dari China baru menyentuh sektor pertambangan dan kami menunggu masuknya investor di sektor transportasi," tutur Achmad.
Selama ini, investor asal China umumnya menanamkan modalnya pada industri yang berbasis sumber daya alam seperti pertambangan, perkebunan dan perikanan.
Dalam konvensi yang digelar pada 18-19 Juli 2008 itu hadir perwakilan dari 93 perusahaan asal China akan datang ke Indonesia untuk menjajaki peluang investasi di sektor perdagangan, properti, manufaktur, keuangan serta energi dan mineral.
Konvensi itu dihadiri pengusaha China dari lima sektor usaha dengan komposisi 27 perusahaan bidang energi dan mineral, 20 perusahaan perdagangan, 20 perusahaan properti, 22 perusahaan manufaktur dan lima perusahaan keuangan. Beberapa perusahaan besar yang akan hadir antara lain China Petroleum dan Apple Group.
Sekitar 150 pengusaha nasional juga akan hadir dalam konvensi tersebut untuk saling berbagi pengalaman. (kpl/rif)