Anggota Komite BPH Migas Adi Subagyo di Jakarta, Jumat (18/7) mengatakan, selama semester pertama tahun 2008, konsumsi BBM bersubsidi sudah mencapai 61% dari kuota APBN Perubahan 2008 sebesar 35,457 juta kiloliter.
"Kalau tidak ada upaya penghematan yang signifikan, maka sampai akhir tahun ini diperkirakan konsumsi mencapai 40 juta kiloliter atau berlebih hingga lima juta kiloliter," katanya.
Data BPH Migas menyebutkan, realisasi konsumsi BBM bersubsidi selama Januari-Juni 2008 mencapai 19.605.175 kiloliter.
Konsumsi premium 9.390.020 kiloliter atau 55,31% dari kuota APBNP 2008, solar 5.844.470 kiloliter atau 53,13%, dan minyak tanah 4.370.685 kiloliter atau 57,8%.
Menurut Adi, kenaikan konsumsi BBM bersubsidi antara lain dikarenakan peningkatan jumlah kendaraan bermotor baik mobil maupun motor dan tambahan permintaan minyak tanah di sejumlah sentra produsen tembakau seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Jawa Tengah, Madura, dan Jawa Timur.
Selain itu, konsumsi juga mengalami kenaikan, khususnya di Kalimantan karena digunakan untuk truk batu bara dan kayu serta kendaraan berat yang seharusnya tidak memakai solar bersubsidi.
"Perbedaan harga antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi membuat peningkatan penyelundupan," katanya.
Adi juga menambahkan, kegiatan pemilu yang sudah dimulai Juli ini akan menambah konsumsi BBM bersubsidi sekitar 10%.
"Kami lakukan peningkatan pengawasan agar konsumsi tidak terlalu tinggi," katanya. (kpl/rif)