"Untuk di Sumut saja hingga awal Agustus pergantian WLL yang rentan dengan gangguan jaringan itu sudah 4.100 SST, masing-masing di Rantau Parapat sebanyak 2.613 SST, Pematang Siantar 1.100 SST dan terakhir 387 SST di Sibolga," kata Executive General Manager Telkom Sumatra, Muhammad Awaluddin.
Dalam acara rangkaian Jejak Flexi di Sumatera yang dimulai di Sibolga, akhir pekan lalu tersebut, Muhammad Awaluddin memutuskan layanan WWL itu ke 387 SST di Sibolga dan menyerahkan terminal Flexi Home secara gratis kepada pelanggan telepon yang sebelumnya menggunakan WWL.
Pergantian ke Flexi Home juga dilakukan kepada pelanggan telepon kabel yang berada di kawasan yang rawan pencurian kabel di Sumut. "Bukan hanya untuk menekan kerugian Telkom yang merupakan BUMN dari aksi pencurian kabel, tapi juga untuk kenyamanan komunikasi pelanggan," kata Awaluddin.
Dia menyebutkan, sampai Mei 2008 kerugian Telkom dari pencurian kabel sudah mencapai Rp2,6 miliar dari total kerugian tahun 2007 yang sebesar Rp5,7 miliar. "Kerugian sebesar itu masih dihitung dari aset yang hilang, belum dihitung dari kerugian terputusnya layanan ke pelanggan, karena sering terjadi kabel yang dicuri merupakan fiber optik yang merupakan penghubung sentral," katanya. Sumut sendiri termasuk satu dari tiga provinsi di Indonesia yang rawan pencurian kabel telepon setelah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Junior Manager Kantor Cabang Telkom Sibolga, Jovinus E Tambunan, mengatakan, WLL Sibolga dioperasikan sejak Januari 1998 setelah mulai dibangun 11 November 1997. WLL Sibolga terdri dari tiga dect access node (DAN) dengan kapasitas 1.800 SST. "Selama beroperasi melayani 1.368 SST dan terakhir tinggal 387 SST yang akhirnya diganti dengan Flexi Home," katanya. (*/roc)