Erman di Jakarta, Selasa (5/8), berpesan kepada perawat untuk bekerja sungguh-sungguh dan menjaga nama baik diri sendiri, keluarga dan bangsa.
Kepada bangsa Jepang yang menggunakan jasa 208 WNI itu, Erman meminta agar memperlakukan mereka dengan baik.
"Posisinya kita saling membutuhkan. TKI butuh kerja, bangsa Jepang butuh jasa tenaga perawat," Kata Erman.
Jumhur mengatakan, pihaknya hanya butuh waktu satu bulan untuk merekrut calon perawat tersebut.
Dijelaskannya, dari 208 itu, 104 di antaranya bekerja sebagai perawat dan 104 lainnya bekerja sebagai pendamping lanjut usia (caregivers).
Gaji mereka sekitar Rp20 juta untuk perawat dan sekitar Rp17 juta untuk pendamping orang tua.
Indonesia sebenarnya mendapat kuota 1000 perawat. Tahun ini 208 di antaranya akan diberangkatkan mulai esok (6/8) dan sisanya akan ditempatkan pada April 2009.
Penempatan perawat itu merupakan realisasi dari kesepakatan pemerintah Indonesia dengan Jepang melalui Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement (Ijepa) pada November 2006 di Tokyo.
Kesepakatan itu ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan PM Jepang Shinzo Abe yang kemudian ditindaklanjuti dengan nota kesepahaman antara BNP2TKI dengan Japan International of Welfare Services (JICWels) pada 19 Mei 2008.
Ke-208 perawat tersebut sudah mengikuti orientasi (pembekalan) sebelum penempatan selama lima hari di Jakarta. Sebelum ke Jepang, mereka akan bertemu dengan Dubes Jepang di Jakarta, Kojiro Shiojiri di kediamannya di Jalan Daksa V No.82-84.
Vera, salah satu calon perawat, mengatakan dirinya mendapat informasi peluang kerja di Jepang melalui internet.
Gadis yang sudah bekerja dua tahun di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, itu mengatakan tidak dipungut dana sepeserpun untuk bekerja di Jepang. Dia berharap akan mendapat pengalaman baru di negeri "Sakura". (kpl/rif)