Mantan menteri pertahanan itu, yang menyoroti mandat pertahanannya, mengatakan pengalaman keamanan adalah syarat dasar bagi seorang perdana menteri Israel.
Surat kabar lokal The Jerusalem Post melaporkan bahwa dengan pernyataan semacam itu, Mofaz menikam kekurangan pengalaman keamanan pesaing utamanya di Kadima, Menteri Luar Negeri Tzipi Livni.
"Keamanan harus menjadi prioritas utama kita, dan oleh karena itu pengalaman, pemahaman dan keahlian dalam masalah keamanan bukan hanya menjadi keuntungan dasar tapi juga menjadi keharusan bagi setiap perdana menteri Israel," kata Mofaz kepada kerumunan pendukungnya sebagaimana dikutip.
Mofaz, yang telah berulang-kali menekankan ancaman nuklir Iran dan pilihan militer guna menyelesaikan masalah kontroversial tersebut, juga berjanji akan mempertahankan Jerusalem "tetap bersatu sebagai ibukota abadi Israel", kata harian setempat Yedioth Ahronoth dalam laman Internetnya.
Status kota suci itu adalah salah satu masalah penting dalam pembicaraan perdamaian antara negara Yahudi dan Palestina. Israel merebut Jerusalem timur pada 1967 dan belakangan mencaploknya, sementara Palestina menuntut bagian kota suci itu sebagai ibukota negara mereka.
Olmert telah mengumumkan ia takkan bersaing dalam pemilihan perdana menteri Kadima pada September, dan akan meletakkan jabatan perdana menteri segera setelah pemimpin baru partai dipilih.
Selain Livni, Mofaz juga akan menghadapi persaingan dari Menteri Keamanan Masyarakat Avi Dichter dan Menteri Dalam Negeri Meir Sheetrit. (*/cax)