"Langkah yang mungkin ditempuh, jurusan atau program studi yang mahasiswanya sedikit di satu universitas, bisa digabung dengan PTS lain sehingga jumlah mahasiswa ideal terpenuhi," katanya di Yogyakarta, Senin (11/8), menanggapi kemungkinan 30 PTS di DIY kolaps akibat kekurangan mahasiswa.
Untuk mendukung langkah itu yang diperlukan sekarang adalah kerjasama antar PTS, dan ini sangat tergantung pada manajemen PTS masing-masing.
Ia mengatakan, berkurangnya jumlah mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta nampaknya terkait dengan kebijakan otonomi daerah.
"Berbagai daerah di Indonesia banyak mendirikan PTS sehingga lulusan SMA di daerah tersebut cenderung kuliah di PTS di wilayahnya sendiri," katanya.
Hal ini beralasan karena umumnya mereka ingin melakukan efisiensi saat kuliah, sehingga untuk menempuh pendidikan tinggi sekarang tidak perlu lagi ke kota lain termasuk Yogyakarta.
"Kalau dulu di daerah tersebut belum ada universitas sehingga mereka memilih ke luar kota dan Yogyakarta biasanya menjadi pilihan," katanya.
Kondisi ini yang ikut mempengaruhi turunnya jumlah mahasiswa masuk PTS di Yogyakarta.
Selain itu, banyak perguruan tinggi negeri (PTS) seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memberi kemudahan bagi calon mahasiswa untuk mengikuti seleksi di daerahnya sendiri.
"Dengan demikian calon mahasiswa tersebut tidak perlu seleksi di Yogyakarta, hanya di kotanya sendiri," katanya.
Kemudahan seperti ini di satu sisi memang memberi keuntungan bagi calon mahasiswa karena tidak perlu keluar banyak uang, tetapi di sisi lain kurang menguntungkan bagi PTS di Yogyakarta.
"Biasanya kalau calon mahasiswa tersebut tidak diterima, mereka tidak akan pergi ke Yogyakarta untuk mendaftar di PTS, tetapi cenderung masuk PTS di daerahnya sendiri," kata Sultan. (kpl/rif)