
Bila sudah menjadi kenyataan, maka komputer atau laptop tak lagi memerlukan sistem operasi atau software karena semuanya akan tersedia di server dan dapat diakses melalui internet. Dalam hal ini, nilai lebihnya adalah kemudahan. Orang tak akan lagi dipusingkan dengan proses install, kompatibilitas dan tentunya kemudahan untuk mengaksesnya dari lokasi lain.
Namun baru-baru ini seorang pakar komputer militer AS menyampaikan bahwa cloud computing ini punya potensi untuk melanggar privacy. Profesor Greg Conti mengatakan bahwa dengan mempercayakan data-data Anda pada penyedia layanan ini, maka artinya Anda harus siap data itu dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kepentingan mereka. Resikonya, Anda dapat terlibat masalah karena data-data Anda sendiri.
"Informasi yang Anda simpan dalam komputer Anda mungkin masih dilindungi oleh undang-undang, namun saat Anda meletakkan data tersebut dalam komputer orang lain perlindungan itu tidak akan sepenuhnya berlaku," ungkap Greg Conti seperti dikutip dari AFP hari Jum'at (08/08/08).
Greg Conti juga menyampaikan bahwa meskipun perusahaan yang menyediakan layanan ini memberikan jaminan bahwa data ini tidak akan diberikan kepada pihak mana pun, namun resiko itu masih tetap ada. Bila perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan dan diambil alih oleh perusahaan lain, perjanjian itu bisa saja tidak berlaku lagi. Di samping itu masih ada resiko bahwa data tersebut diminta oleh pihak pengadilan. Dalam hal ini, perusahaan tentu tidak dapat mengelak. (afp/roc)