< >

Stres, Ayah Bunuh Anak

Senin, 11 Agustus 2008 21:21
Kapanlagi.com - Akibat stres, ayah kandung, M. Teguh Santosa (38), warga Desa Rowo Kembu, Kecematan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, tega membunuh anaknya, Makmur Baharullah (6) dengan cara menggantungkan korban di atas pohon mangga, Senin (11/8).

Dari keterangan yang terhimpun disebutkan, peristiwa itu kali pertama diketahui ketika salah seorang warga setempat, Warjo (72) yang bermaksud buang hajat di sawah melihat seseorang sedang tidur di bawah pohon mangga. Namun saat itu, saksi tidak menduga dan curiga jika di atas pohon ada korban yang sudah tewas di atas pohon.

Seusai buang hajat, saksi kembali lewat jalan semula dan baru mengetahui jika orang yang tidur di bawah pohon itu adalah Teguh Santosa dan seorang anak menggantung di atas pohon.

"Semula saya tidak tahu, jika yang tidur di bawah pohon adalah Teguh. Saya semakin terkejut ketika melihat di atas pohon mangga ada anak tergantung dalam kondisi sudah tewas," katanya.

Warjo kemudian menghubungi tetangga lainnya, yaitu Kusnoto (60) dan melaporkan kasus itu ke Ketua RT 09/ RW 04, Bambang Supriyatin. Saat tiba di lokasi kejadian bersama warga, Teguh Santosa sudah di atas pohon sambil bertiduran.

Ketika didatangi oleh sejumlah warga, M. Teguh Santosa berusaha menjatuhkan diri dari pohon mangga. "Saat ditanya dirinya mengatakan anaknya sudah dibunuh karena dipanggil Tuhan," katanya.

Petugas yang mendapat laporan dari warga mendatangi lokasi dan mengevakuasi korban yang sudah kaku dan tak bernyawa. "Posisi anak itu terikat dengan sobekan kain sarung di salah satu dahan pohon mangga setinggi sekitar 3,5 m," katanya Ketua RT 09, Bambang.

Jenazah itu dilarikan ke RSUD Kraton untuk divisum, sedangkan tersangka diamankan di Mapolsek Wonopringgo. Namun, sebelum diamankan tersangka beberapa kali mengatakan jika anaknya, Makmur Bharullah menghadap Tuhan.

Kakak tersangka, Ida (33), mengatakan, tersangka dalam beberapa hari terakhir memang sering marah-marah dan berkata sendiri seperti orang stres. "Terakhir, adik saya (Teguh Santosa -red.) berbicara sendiri dan marah-marah tentang masalah BLT," katanya.

Kapolres Pekalongan AKBP Aan Suhanan melalui Kapolsek Wonopringgo AKP Prajoko mengatakan, polisi belum bisa memastikan motif pembunuhan. Namun dari pemeriksaan sementara polisi mencurigai kejiwaan tersangka yang menjawab seenaknya dan terlihat tidak menyesal.

"Kepada penyidik, tersangka mengakui membunuh anaknya karena dia sayang dan ingin mempertemukan anaknya dengan Tuhan," katanya.

Sebelum peristiwa itu, tersangka mengaku membawa istrinya, Wiwid (29) dan dua anaknya, yaitu Nurdin (8) dan Makmur Baharullah (6) ke sawah untuk diajak menghadap Tuhan. "Namun tersangka baru sempat membunuh anak bungsunya karena anak sulung dan istrinya minta pulang," katanya. (kpl/rif)