Telkom Gratiskan Tarif Flexi

Kapanlagi.com - Dalam rangka meningkatkan jumlah pelanggan, PT Telkom memberlakukan tarif gratis atau Rp0 untuk pengguna telepon flexi di Divre II dan III, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, selama tiga bulan hingga akhir Oktober.

Deputy General Manager PT Telkom Datel Bogor, Ibnu Hadyanto mengatakan, pemberlakuan tarif gratis untuk pengguna telepon flexi untuk merangsang pengguna seluler menggunakan telepon flexi.

"Targetnya selama tiga bulan tersebut, pelanggan dan pengguna telepon flexi, naik satu juta pelanggan atau 40%, dari 2,4 juta menjadi 3,4 juta," kata Ibnu Hadyanto, di Bogor, Senin.

Dijelaskannya, tarif gratis bicara berlaku untuk sesama pengguna flexi tanpa syarat sepanjang 24 jam. Sedangkan, dari flexi ke operator lain, gratis bicara berlaku pada menit ke tiga hingga lima untuk pembicaraan lokal, serta pada menit ke lima hingga delapan untuk saluran langsung jarak jauh (SLJJ).

Menurut dia, dengan menggratiskan tarif bicara selama tiga bulan, PT Telkom mengalami penurunan pemasukan atau rugi Rp27 miliar atau Rp9 miliar per bulan.

"Tapi dibandingkan dengan target yang akan dicapai, Rp10 triliun per tahun, penurunan pemasukan Rp27 miliar selama tiga bulan, kita anggap sebagai biaya promosi," kata Ibnu.

Asisten Manager Flexi Datel Bogor, Wahyu mengatakan, jumlah pelanggan dan pengguna telepon flexi di Divre II, Jabodetabek, pertumbuhannya terhambat, akibat migrasi dari frekuensi 1.900 ke frekuensi 800, pada awal 2008. Padahal, operator CDMA lainnya di Jabodetabek telah menggunakan frekuensi 800.

"Keunggulan frekuensi 800 sinyalnya lebih kuat daripada frekuensi 1.900. Akibatnya pertumbuhan pelanggan flexi di Divre II sangat rendah, pangsa pasar untuk sesama operator CDMA hingga akhir 2007, hanya 20%," katanya.

Padahal, pangsa pasar flexi di divre lainnya di Indonesia yang telah menggunakan frekuensi 800 sangat tinggi, sekitar 70-80%.

Menurut Hadyanto, semula PT Telkom telah mengoperasikan flexi di divre II Jabodetabek sejak 2004, dengan frekuensi 1.900. Setelah memiliki pelanggan lebih dari satu juta, kata dia, pemerintah mengubah kebijakan, operator CDMA bisa beroperasi di frekuensi 800.

"PT Telkom tidak bisa mengubah frekuensi begitu saja, karena harus melakukan adaptasi teknologi maupun penyesuaian telepon pelanggannya. Dibutuhkan waktu selama dua tahun hingga awal 2008, untuk benar-benar bermigrasi ke frekuensi 800. Ini yang menyebabkan pertumbuhan pangsa pasar flexi sangat rendah," katanya.  (*/cax)

©2003-2007 KapanLagi.com