< >

Deperin: Daya Saing Nasional Buruk Karena Industri Belum Pulih

Rabu, 20 Agustus 2008 16:09
Kapanlagi.com - Departemen Perindustrian menyatakan kondisi industri di tanah air belum sepenuhnya pulih dari dampak krisis moneter sehingga menyebabkan daya saing nasional menjadi buruk, hal tersebut tercermin dari kurang baiknya kinerja industri yang hanya tumbuh 4,43% di semester pertama 2008.

Di semester satu tahun ini belum menunjukkan kinerja yang baik karena industri hanya tumbuh 4,43%. Angka tersebut turun sekitar 0,72% dibanding semester I 2007 mencapai 5,15%, kata Menteri Perindustrian dalam sambutan yang dibacakan Irjen Departemen Perindustrian, Sakri Widhianto, pada Seminar Kebangkitan Daya Saing Nasional Indonesia di Jakarta, Rabu.

Menurut Sakri, yang menyebabkan buruknya kinerja industri di Indonesia saat ini adalah ketergantungan yang sangat besar pada bahan baku impor, lemahnya sinergi antara industri besar dengan industri kecil menengah, ekspor yang hanya didominasi industri besar saja, serta terkonsentrasinya industri di Pulau Jawa mengingat 60% industri berada di pulau ini.

Selain itu, dia mengatakan, tingginya harga minyak dunia, tingginya harga listrik, keamanan yang kurang kondusif, perpajakan yang menghambat, menjadi penyebab lain kurangnya daya saing Indonesia di mata internasional. Ditambah lagi dengan faktor sumber daya manusia yang masih bermasalah di mana sering terjadi konflik antara pegawai dengan perusahaan.

Ia mengatakan, guna peningkatan daya saing nasional perlu adanya sinergi yang terintegrasi antar sektor. Mulai dari perindustrian dengan pertanian, energi dan sumber daya mineral, kelautan, lembaga riset, hingga pengusaha dan pemerintah daerah.

Turunnya investasi asing karena ketidakpercayaan investor juga merupakan satu masalah yang perlu dihadapi. Keikutsertaan Indonesia pada berbagai forum dunia mulai dari AFTA, APEC, hingga WTO, yang membuat perdagangan semakin liberal.

Namun sangat disayangkan, daya saing Indonesia belum juga memuaskan, terlihat dari hasil penelitian terbaru terkait daya saing dalam "Ranking of the world competitiveness" 2008 di mana Indonesia berada di peringkat 51 dari dari 55 negara, dan posisi Indonesia masih di bawah Malaysia dan Thailand.

"Kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa persiapan Indonesia terhadap ekonomi global masih kurang. Walaupun demikian sejumlah pengamat meyakini Indonesia mampu bangkit dimulai dari beberapa sektor," ujarnya.

Dalam hal peningkatan daya saing nasional tersebut, menurut Sakri, yang dipersiapkan di sektor industri oleh pemerintah adalah memperkuat di setiap tingkatan mata rantai industri mulai dari hulu hingga hilir, meningkatkan nilai tambah di sepanjang mata rantai industri, efisiensi penggunaan sumber daya alam, fokus dalam penggunaan energi terbarukan, melakukan bimbingan teknis dan penambahan fasilitas khususnya untuk Industri Kecil Menengah (IKM) sehingga dapat bersinergi dengan industri besar melalui jalur kemitraan.

Ia juga mengatakan, pemerintah sendiri perlu merevisi segala kebijakan yang dinilai dapat menghambat daya saing nasional dan menggunakan Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional sebagai acuan.

"Diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dalam rangka koordinasi peningkatan daya saing yang kompetitif. Guna mencapai hal tersebut memang sangat diperlukan di antaranya infrastruktur, pasar dan bahan baku," ujarnya. (*/lin)


BERITA TERKAIT