< >

IATA: Maskapai Merugi US$6,1 Miliar

Rabu, 20 Agustus 2008 18:31
Kapanlagi.com - 'Badai yang sempurna' dari lonjakan biaya bahan bakar dan turunnya permintaan membuat operasi maskapai di seluruh dunia merugi US$6,1 miliar tahun ini, kata Asosiasi Agkutan Udara Internasional (IATA), Rabu (20/8).

Dirjen dan pimpinan eksekutif IATA, Giovanni Bisignani, mengatakan dia memperkirakan akan lebih banyak maskapai yang keuntungannya tergerogoti oleh makin tingginya harga bahan bakar.

"Kita berada di badai yang sempurna dari tidak terkontrolnya biaya bahan bakar dan anjloknya permintaan," kata Bisignani.

"Maskapai dapat merugi setidaknya US$6,1 miliar tahun ini. Sekitar 25 maskapai yang berada dalam sistem keuangan kami mengalami kegagalan -- lebih besar dari pada setelah 9/11 -- dan kami jadi lebih terjepit.

"Meski beberapa diakibatkan harga minyak, kami adalah industri yang rentan dalam situasi krisis ini."

Sejak 2002, harga minyak melonjak dari US$25 per barel menjadi lebih dari US$140. Saat ini sekitar US$110, namun Bisignani mengatakan harga minyak akan dengan mudah naik kembali karena ketidakstabilan di Rusia dan Timur Tengah.

Dia mengatakan realitas bahwa harga minyak cenderung tetap tinggi dari lima tahun lalu.

Terkait dengan soal keamanan, dia mengatakan, ketika soal itu ditingkatkan sejak serangan pesawat 9/11 di AS, banyak pemerintahan yang menolak.

"Seperti setiap pelancong tahu, sistem tetap tidak terkoordinasi secara menyeluruh karena banyak pemerintahan tidak berfikir atau melakukannya di seluruh dunia," katanya. Dia mengatakan, bahwa pemeriksaan keamanan hampir tidak perlu dilakukan berulang.

Dia mengatakan saat maskapai bekerja keras untuk memangkas biaya untuk mampu bertahan di lingkungan yang makin keras, mereka tidak lagi beroperasi secara bisnis normal karena akses udara dan kepemilikan asing dikontrol oleh pemerintah.

"Siapa yang peduli siapa pemilik maskapai selama itu aman dan memberikan layanan yang efisien? sudah waktunya untuk berubah dari maskapai dunia dan politik mejadi merek dan bisnis," katanya. (kpl/dar)