"Kegagalan reformasi birokrasi dalam pelaksanaannya lebih disebabkan oleh kurangnya komitmen, konsistensi dan kredibilitas para pemimpinnya," kata Kepala Lembaga Administrasi Nasional (LAN) Sunarno saat memberikan sambutan pada penutupan Pendidikan dan Latihan Kepemimpinan LAN, di Jakarta, Kamis.
Sunarno mengatakan, sejalan dengan reformasi birokrasi, saat ini pemerintah telah banyak melakukan inisiatif untuk mereformasi birokrasi khususnya perbaikan sistem dan budaya kerja, pengukuran kinerja, penerapan disiplin, optimalisasi peningkatan pelayanan publik, upaya mengurangi korupsi dan peningkatan produktivitas kerja dan renumerasi yang memadai.
Namun demikian upaya-upaya tersebut belum dapat mencapai hasil yang maksimal dan memuaskan masyarakat.
Ia mengatakan birokrasi sampai dengan saat ini masih memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar dalam mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan dengan menjawab secara jelas tuntutan masyarakat yang semakin berkembang secara pesat.
Dengan semakin besarnya tanggung jawab birokrasi dalam menanggulangi krisis multidimensi yang semakin kompleks, maka pola-pola lama praktik kepemimpinan birokrasi yang selalu ingin dilayani dan banyak menuntut untuk mendapat fasilitas pelayanan sudah tidak relevan lagi.
"Sudah saatnya reformasi birokrasi diarahkan untuk mengubah pola lama praktek kepemimpinan yang dilayani ke arah kepemimpinan yang melayani," katanya.
Ia mengatakan, ada tiga aspek tipe kepemimpinan yang melayani yakni "hati yang melayani" atau kepemimpinan dimulai dari dalam diri sendiri.
Lalu "kepala yang melayani" atau seorang pemimpin sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata tapi juga harus memiliki serangkaian metode kepemimpinan .
Aspek ketiga adalah "tangan yang melayani" yakni pemimpin sejati bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta kemampuan dalam metoda kepemimpinan, tetapi dia harus menunjukkan perilaku atau kebiasaan pemimpin sejati yang selain fokus pada duniawi juga fokus pada hal spiritual. (*/bee)