
"Ya seneng aja, dipindahin kan bisa dilihat terus, dan biaya ga terlalu tinggi kalau nengok. Setelah vonis dijatuhin, kita sekeluarga cari tahu supaya bisa dipindahin dari LP di Surabaya ke Cipinang," ujar Gading saat ditemui di Score Cilandak Town Square, Minggu (24/08/08).
Menurut penuturan Gading, ayahnya juga senang dipindah ke LP yang dulu pernah dihuninya, karena bisa bertemu dengan cucu-cucu.
Pesinetron kelahiran 8 Mei 1982 ini terbilang jarang bertemu dengan ayahnya saat masih di LP Medaeng. "Yang lebih sering ketemu (di LP Medaeng -red) ya nyokap. Karena kata nyokap ongkosnya terlalu mahal kalau aku juga ke sana."
Saat ditanya mengenai kenang-kenangan dari ayahnya selama di Medaeng, Gading menjawab mendapat lukisan. "Ada sepuluh buah lukisan karya Roy Marten ada lukisan ikan koi, ada lukisan penari bali, dll. Makanya gue disuruh bokap untuk belajar melukis. Tapi aku sendiri kurang begitu suka. Dia (Roy Marten -red) itu amatiran yang ternyata punya bakat seniman sejati," jawabnya sedikit memuji.
Mengenai barang haram yang menjerat ayahnya ke bui hingga dua kali, Gading secara jujur mengakui pernah mencobanya. "Terus terang saja gue pernah nyoba, ada shabu-shabu. Tapi sebatas nyoba doang. Aku nyoba itu karena pengen tahu aja, gimana sih rasanya. Tapi setelah itu ya udah." (kpl/ang/lin)
Lihat Profil: Gading Marten, Roy Marten