Bantuan itu tetap memperhatikan mutu sawit yang dihasilkan, swasembada benih dan pupuk hingga mampu mendirikan pabrik kelapa sawit (PKS) sendiri untuk kepentingan kelompok tani.
Wujud bantuan awalnya akan dilakukan dengan membantu penjualan/pemasaran CPO yang dilakukan di pasar bursa," kata Ketua Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia, Soedjai Kartasasmita, usai pertemuan petani kelapa sawit di bawah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) dengan pengusaha PKS di Medan, Senin.
Keuntungan penjualan di pasar bursa itu-lah nanti, sebagian besar dikucurkan Swedia ke petani untuk berbagai kepentingan mulai untuk memenuhi kebutuhan pupuk dan benih yang selama ini menjadi kendala utama petani mengembangkan areal dan mutu tanamannya hingga pendirian PKS sehingga petani bisa mengolah langsung hasil produknya.
"Keseriusan Swedia itu tentu saja menggembirakan. GPPI yang merupakan motor penggerak kerja sama itu mengharapkan Apkasindo dan asosiasi petani sawit lainnya memanfaatkan peluang itu dengan sebaik-baiknya," kata Soedjai yang mantan Dirut PT. Perkebunan VI, yang sekarang melebur dalam PT.Perkebunan Nusantara (PTPN) IV.
Dalam konteks ini Apkasindo dan asosiasi lainnya diharapkan GPPI juga tidak "main-main" atau membuat kelompok tani fiktif.
"Jangan sampai kesempatan bagus itu hilang dan bahkan menjadi kesan negatif bagi pemerintah Indonesia," katanya.
Ketua DPP Apkasindo, Soemardi Syarif, menyatakan, pihaknya akan menyosialisasikan keinginan Swedia membantu petani sawit ke anggotanya sekaligus langsung mempelajari dan menjajaki peluang kerja sama itu.
Apkasindo sendiri dewasa ini, kata dia, sudah melakukan berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan petani seperti melakukan kerja sama titip pengolahan tandan buah sawit (TBS) dengan PT. Perkebunan Nusantara IV. (*/bee)