Dia mengatakan jumlah tersebut dalam rangka pemenuhan program pengadaan bersubsidi dengan percepatan sampai tahun 2009 dengan perhitungan guna mencukupi kebutuhan sebanyak 42 juta Kepala Keluarga (KK).
Untuk pengadaan hingga tahun 2008, dia mengatakan, dibutuhkan 40 juta unit tabung baja LPG tiga kilogram dan katup baja. Saat ini baru dapat dipasok sebanyak 17,5 juta tabung.
Menurut dia, berdasarkan hasil promosi dan investasi kini telah berkembang industri tabung baja tiga kilogram sebanyak 41 perusahaan dengan kapasitas terpasang kurang lebih 36 juta unit tabung per tahun.
Ansari menjelaskan bahwa konsumsi minyak tanah per tahun mencapai 10 juta kilo liter (KL), dan jika harga per liter mencapai Rp6.000 hingga Rp7.000 maka pengeluaran untuk minyak tanah dapat mencapai Rp60 triliun.
"Jika dihitung inefisiensi dengan penggunaan minyak tanah dapat mencapai 40 persennya. Karena itu jika dihitung secara makro jumlah uang yang hilang sangat besar," ujar dia.
Sejauh ini, dia mengatakan, masalah standarisasi tabung baja tiga kg ini sudah tidak ada, karena SNI tabung wajib diterapkan. Masalah akan timbul justru jika bahan baku impor dan bukan dari dalam negeri.
Untuk membuat 100 juta tabung tiga kg tersebut dibutuhkan bahan baku sekitar 600.000 ton plat baja, ujar dia. Dan kebutuhan bahan baku plat baja tersebut sebenarnya dapat dipenuhi oleh PT Krakatau Steel.
Depperin sendiri berharap pemenuhan tabung dilakukan produsen tabung dalam negeri, ujar Anshari. Jika harga satu tabung mencapai Rp130 ribu maka uang yang akan keluar dapat mencapai Rp13 triliun, sementara tidak ada manfaat bagi Indonesia. (*/bee)