"Saya rasa pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan untuk mencegah beralihnya pengguna tabung 12 kg ke tabung tiga kg. Kalau Pertamina benar-benar menetapkan harga keekonomian hingga Rp140.000 per tabung maka tabung tiga kg akan termakan," kata anggota pengurus harian YLKI, Tulus Abadi, di Jakarta, Jumat.
Dia memperkirakan peralihan para pengguna elpiji tabung 12 kg ke tabung tiga kg akan sangat besar jumlahnya jika harga benar-benar ditetapkan sesuai dengan harga keekonomian yang mencapai Rp140.000 per tabung.
Menurut dia, pemerintah kurang konsisten dengan program konversi minyak tanah ke gas elpiji ini. Saat peralihan minyak tanah ke LPG berlangsung justru PT Pertamina (Persero) menaikkan harga gas terus-menerus.
Hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah, menurut dia, adalah membuka ijin pemain baru untuk penyediaan gas elpiji selain Pertamina sehingga tercipta harga yang bersaing di pasaran.
"Sekarang ini Pertamina seharusnya tidak boleh melepas harga elpiji sesuai dengan harga keekonomiannya karena dia satu-satunya pemain dalam penyediaan gas elpiji ini. Berbeda kondisinya jika memang terdapat pesaing lain di pasaran," ujar dia.
Sementara itu. sejak Senin (25/8), Pertamina kembali menaikkan harga jual elpiji kemasan 12 kg sebesar 9,5% dari Rp5.250 per kg menjadi Rp5.750. Sebelumnya, per 1 Juli 2008, harga naik dari Rp4.250 menjadi Rp5.250 per kg.
Pertamina juga berencana menaikkan harga elpiji 12 kg sebesar Rp500 per bulan sampai harga keekonomian yang sekarang mencapai Rp11.400 per kg. Alasan Pertamina, harga yang berlaku saat ini masih di bawah harga keekonomian, dan perusahaan itu masih merugi sekitar Rp6,5 triliun per tahun dalam bisnis elpiji. (*/bee)