Ia mengatakan itu di Jakarta, Senin, menanggapi perintah Wakil Presiden HM Jusuf Kalla kepada Gubernur Fauzi Bowo, agar Pemprov DKI Jakarta memberikan jaminan keamanan terhadap Kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) di Jalan Salemba Raya Nomor 10, Jakarta Pusat, setelah mengalami dua kali penyerangan aparat Satpol PP DKI Jakarta.
"Satpol PP merusak bangunan dan menyerang, itu ibarat pagar makan tanaman," tandas Imam Anshori Saleh lagi.
Berkaca kepada perusakan bangunan Kantor PGI dan sekitarnya itu, mantan jurnalis di sebuah koran Jakarta ini, mengusulkan perlunya evaluasi pola rekrutmen dan pembinaan Satpol PP di seluruh Indonesia.
"Saya mengusulkan pengevaluasian menyeluruh, baik terhadap pola rekrutmen maupun pola pembinaan Satpol PP. Kalau perlu dirombak total," tegasnya.
Menanggapi usulan berbagai pihak agar eksistensi Satpol PP ditinjau ulang, malah kalah perlu dibubarkan saja, Imam Anshori Saleh hanya mengatakan, memang ada yang salah dengan Satpol PP sekarang ini.
"Sebaiknya perlu evaluasi dalam pola (pembinaan dan rekrutmen). Kalau perlu, ya seperti saya katakan tadi, dirombak total saja. Yang ada dipensiun dini, diganti yang baru. Pasti ada yang salah dengan Satpol PP yang sekarang yang cenderung suka berbuat anarkis di beberapa tempat," ujar Imam Anshori Saleh.
Perbaiki Hubungan
Imam Anshori Saleh juga setuju dengan perintah Wakil Presiden kepada Gubernur DKI Jakarta, agar segera menuntaskan masalah penyerangan Satpol PP terhadap Kantor PGI dan sekitarnya.
"Dalam suasana bulan ramadan seperti sekarang, wajar jika semua kita memperbaiki hubungan silaturahim dengan siapa saja sebagai sesama ciptaan Tuhan dan sesama warga bangsa," katanya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, penyerangan dua kali (Selasa, 26 Agustus dan Kamis, 27 Agustus) terhadap Kantor PGI oleh Satpol PP DKI Jakarta, ditanggapi Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla dengan menelepon langsung Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.
Wapres memerintahkan agar Pemprov DKI Jakarta memberikan jaminan keamanan terhadap Kantor PGI yang terletak di Jalan Salemba Raya No 10, Jakarta Pusat tersebut.
Padahal, pada hari Rabu (27/8) lalu, Wagub DKI Prijanto telah datang terkait penyerangan yang dilakukan hari pertama (Selasa, 26 Agustus) dan bersedia memperbaiki berbagai kerusakan. (*/bee)