"Jumlah politisi perempuan di parlemen Swedia saat ini telah mencapai 47%, sedangkan di Indonesia setengahnya saja belum terpenuhi," katanya di Gedung DPR/MPR di Jakarta, Selasa.
Ia mengakui, ironis jika harus membandingkan jumlah perempuan yang menduduki kursi parlemen antara Indonesia dengan Swedia.
"Kita saja kuota 30% perempuan masih sulit, apa bisa dipenuhi," kata Sidarto Danusubroto usai pertemuan dengan Delegasi Komisi Luar Negeri Parlemen Swedia di Gedung Nusantara III.
Pertemuan itu berlangsung hangat dan interaktif.
Rombongan parlemen Swedia rombongan berjumlah lima orang dan di pimpin Kerstin Engle. Mereka diterima Ketua DPR RI Agung Laksono, didampingi Sidharto Danusubroto, Markus Silano (Fraksi Partai Demokrat) dan Tosari Wijaya (Fraksi Partai Persatuan Pembangunan).
Sidharto Danusubroto juga mengungkapkan, di Swedia kondisi perempuan terjun ke dunia politik sudah berjalan dari tahun 1970-an sementara di Indonesia pemenuhan 30% baru mulai berjalan tahun depan.
"Karena itu, parlemen Swedia sangat mendorong untuk terpenuhinya kuota 30%," katanya.
Hal ini terjadi karena kondisi perempuan di Indonesia belum mau terjun ke dunia politik. "Itu terjadi lebih karena kecenderungan perempuan di Indonesia masih senang terjun ke dunia bisnis daripada politik," katanya.
Karena itu, perlu perjuangan lebih keras agar perempuan mau terjun berpolitik sehingga dunia perpolitikan Indonesia menjadi lebih berwarna. (*/bee)