
Meski DRUPADI belum dirilis, WHYO mengungkapkan beberapa keberatan berdasar pandangan produser DRUPADI yang tertuang dalam press release mereka, yang dikeluarkan pada Kamis, 21 Agustus di Goethe House Jakarta.
Dari release tersebut WHYO mengungkapkan adanya indikasi pelecehan terhadap simbol agama Hindu, mengingat kisah Mahabarata yang menjadi jalan cerita film DRUPADI adalah kisah suci, bagian dari kitab suci agama Hindu, yaitu Itihasa Wedha.
Melalui Shri I Gusti Ngurah Arya Vedakarna MWS, selaku Presiden WHYO, juga merasa keberatan dengan istilah Mahabarata sebagai kisah klasik. Karena dalam kepercayaan agama Hindu kitab suci Mahabarata adalah salah satu bagian dari kumpulan kitab suci Wedha. Suatu kesalahan jika disebut sebagai kisah klasik.
Selain itu, pernyataan Dian Sastrowardoyo yang mengungkapkan peran Dewi Drupadi dalam film itu, sebagai bentuk emansipasi, dalam rangka memanusiakan diri, juga dianggap sebagai pelecehan. Karena dalam kitab suci Mahabarata, Dewi Drupadi adalah putri dari Dewa Agni, yang tentunya memiliki kesempurnaan.
"Intinya, kata memanusiakan dirinya menyinggung umat Hindu dunia. Ini adalah tidak relevan, karena menurut kepercayaan Hindu, Dewi Drupadi adalah sosok wanita suci atau dewi," ungkapnya.
Hal lain yang juga dianggap keliru adalah Dewi Drupadi yang hanya bersuamikan Arjuna. Padahal, dalam kitab suci Hindu, Drupadi sejak awal adalah istri dari Pandawa. Sehingga muncul sebutan Dewi Drupadi melakukan poliandri, juga sebagai pelecehan.
Karena figur Drupadi dan Pandawa adalah figur yang disucikan dan setara dengan Dewata, sehingga istilah poliandri itu tidak tepat karena hanya diberikan untuk manusia biasa.
Interprestasi keliru menurut WHYO juga ditunjukkan lewat penyebutan istilah takdir, karena dalam agama Hindu tidak ada kepercayaan terhadap takdir, yang ada adalah hukum karma.
Ditambah penyebutan Bima yang tidak pernah menyembah siapa pun, termasuk para dewa. Padahal dalam kitab suci semua Pandawa adalah pemuja Dewa Wisnu, sehingga anggapan yang disampaikan dalam release produser DRUPADI merupakan indikasi interprestasi tidak benar.
Karenanya WHYO berharap dapat meluruskan cerita yang sebenarnya. (kpl/hen/dar)
Lihat Profil: Dian Sastrowardoyo
ya mustinya dian sastro klu pingen buat film yang menyangkut keagamaan seperti "DRUPADI" konfirm ke tokoh keagamaan
agar nantinya tidak ada protes di kemudian hari
untuk WHYO protesnya bagus tu
dengan tujuan untuk meluruskan interpertasi yang salah
maju trus untuk dian sastro dan untuk WHYO agar terus memberikan masukan untuk kesuksesan Film "DRUPADI" ini
saya sebagai umat hindu ingin agar lebih berhati2 dlm membuat film yang bernafaskan agama.....
Menyikapi masalah cerita film yang di sutradarai oleh cewek ku Dian , si bisa aja, tapi din sebelum lho bikin film itu ngomong dulu ke gue kan bisa rilis yang sebenarnya, maksudnya jangan pakai judul yang blom lo tau jelas ujung ceritanya na kan berabe jadinya , mendingan lo sutradarai lawak aja biar tambah caem . eee entar malam jadi kan kita jalan jalan ,