"Proyek ini sedang dalam tahap pemasangan mesin setelah dua mesin pengolah pupuk tiba di Medan bulan Agustus 2008. Pekan kedua bulan September ini, pabrik itu sudah beroperasi," kata Kepala Pemasaran Wilayah Sumut PT. Petrokimia, Sudigdo di Medan, Rabu.
Dia menjelaskan, pabrik di kawasan Pantai Labu yang dibangun bekerja sama dengan CV Primatani distributor Petrokimia di Tanah Karo itu merupakan pabrik kedua di Sumatera setelah Agustus 2008 pabrik serupa dioperasikan di Lampung.
Secara nasional, pabrik pupuk organik yang dibangun dengan menggandeng investor lokal itu sudah mencapai 40 unit namun masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
"Melihat kebutuhan pupuk organik yang cukup besar di Sumut, pabrik pupuk organik seperti ini bisa dibangun lima unit lagi dan Petrokimia siap bekerja sama dengan investor setempat," katanya.
Untuk kelancaran operasional pabrik, lokasi pabrik harus berdekatan dengan kawasan peternakan sapi untuk mempermudah pasokan bahan baku pupuk organik berupa kotoran ternak.
"Pendirian pabrik pupuk organik di dalam negeri masih sangat menjanjikan mengingat kebutuhan pupuk jenis ini cukup besar," katanya.
Kebutuhan pupuk organik secara nasional diperkirakan mencapai 345.000 ton/tahun sementara Sumut sendiri membutuhkan sekitar 19.000 ton per tahun.
Harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sekitar Rp 1.000 per kg sementara nonsubsidi sekitar Rp 1.800 per kg hingga 2.000 per kg.
Dengan dibangunnya pabrik pupuk organik di Sumut, diharapkan pupuk jenis ini semakin mudah diperoleh dan harga pupuk non subsidi menjadi lebih murah. (*/bee)