Perusahaan minyak milik pemerintah, Nigerian National Petroleum Corp. (NNPC), mengatakan bahwa pihaknya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan monopoli ekspor gas Rusia dalam proyek usaha patungan, tetapi tidak menjelaskan secara rinci.
"MoU tersebut meliputi eksplorasi minyak dan gas, serta pembangkit listrik," kata juru bicara NNPC Levi Ajuonoma.
"Rincian dari proyek-proyek khusus akan disusun belakangan bersamaan dengan besaran cakupan uang," katanya.
Pemerintah Nigeria mengatakan pada Januari lalu bahwa Gazprom akan mengeluarkan anggaran antara satu hingga US$2,5 miliar pengembangan sektor gas, negara yang kaya sumber alam tersebut.
Gazprom mengatakan bahwa investasi pada gas alam cair (LNG) Nigeria membuat rencana strategis karena negara itu harus dekat dengan pasar Amerika Utara utamanya ketimbang Rusia.
Nigeria memiliki cadangan gas tersedia terbesar ke tujuh dunia dan beberapa ahli industri di Eropa melihat kesepakatan tentatif Rusia dengan anggota OPEC Afrika sebagai usaha untuk memperoleh penghalang pada pasokan gas alam Eropa. Gazprom telah bersedia menyediakan seperempat dari gas Eropa.
Cheif Executive Gazprom Alexei Miller mengatakan pada April lalu bahwa perusahaan gas terbesar dunia itu telah melakukan pembicaraan pendahuluan dengan Nigeria seputar keikutsertaan dalam suatu proyek multi miliaran dolar untuk jaringan pipa gas Nigeria ke Eropa melintasi Sahara.
Gazprom juga menyetujui dengan perusahaan minyak Aljazair Sonatrach untuk mencari dan mengkomersialkan gas alam bersama setelah kunjungan ke Aljazair tahun lalu yang dilakukan mantan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang saat ini sebagai perdana menteri (*/bee)