Perkembangan Demokrasi di Aceh Dipantau Swedia
Kapanlagi.com - Pemerintah Swedia terus memantau perkembangan demokrasi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) serta proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami di daerah itu. "Kami pikir saat ini sedang tumbuh demokrasi yang kuat di Aceh dan kami harapkan proses pemilu 2009 dapat berjalan damai dan demokratis," kata ketua delegasi dari Komite Parlemen Swedia yang membidangi luar negeri, Kerstin Engle usai bertemu dengan Wakil Gubernur (Wagub) Muhammad Nazar di Banda Aceh, Kamis (4/9). Dalam pertemuan tersebut, delegasi yang beranggota Ann-Marie Palsson (Partai Moderat), Hans Linde (Partai Kiri), Carin Runeson (Partai Sosial Demokrat) juga membicarakan tentang proses damai di Aceh. Dubes Swedia untuk Indonesia, Ann Marie Bolin Pennegard juga hadir dalam pertemuan itu. Menurut Dubes Ann Marie Bolin Pennegard, proses perdamaian setelah penandatanganan kesepakatan (MoU) damai Helsinki terus berjalan dan demokrasi yang kuat sedang tumbuh di Aceh dengan lahirnya partai politik lokal. Swedia sebagai anggota Uni Eropa yang sejak lama sudah mendukung tegaknya demokrasi dan mengetahui telah tumbuhnya proses tersebut di Aceh, akan terus mendukung perkembangan demokrasi, parlemen serta pemilu yang bebas dari intimidasi dan damai di Aceh. "Sejauh ini yang kami lihat dari pilkada sebelumnya telah membantu perkembangan demokrasi dan kami akan selalu mendukung Aceh," katanya. Wagub Muhammad Nazar mengatakan, dalam pertemuan singkat tersebut delegasi Swedia banyak menanyakan berbagai hal dan ingin melihat langsung situasi perdamaian, rehabilitasi, rekonstruksi dan bagaimana pilkada damai di Aceh. "Mereka mengharapkan Pemerintah Aceh dapat menfasilitasi pemilu damai dengan baik. Swedia sebagai negara yang selama ini aktif mendorong perdamaian di Aceh, termasuk membiayai, sudah selayaknya mereka berhak melihat dan memantau proses tersebut," kata Wagub. Sebagai anggota Uni Eropa mereka turut membantu proses rehabilitasi dan rekonstruksi, memantau apa yang sudah dijalankan dan membicarakan program apa yang kira-kira dapat mempercepat proses pembangunan dan perdamaian di Aceh termasuk isu HAM. Delegasi Swedia tersebut mengunjungi Aceh sebagai bagian dari lawatan mereka di Indonesia yang berlangsung sejak 1 September. Swedia telah memberikan sumbangan hampir 42 juta dolar AS untuk mendukung berbagai proyek dan program pasca tsunami di Aceh dan Nias (Sumatera Utara). Swedia juga mendukung proses perdamaian di provinsi berjuluk Serambi Mekah itu. Dana senilai tujuh juta dolar dikucurkan melalui Misi Pemantauan Aceh yang diketuai Uni Eropa. Organisasi itu membantu dan mendukung proses perdamaian di Aceh setelah MoU Helsinki 15 Agustus 2005. (kpl/rif) |